Monday, May 11, 2015

Membongkar Misteri Rumah Tertimbun Letusan Tambora

Membongkar Misteri Rumah Tertimbun Letusan Tambora

CNN Indonesia
Membongkar Misteri Rumah Tertimbun Letusan TamboraArkeolog membersihkan dinding anyaman bambu bekas rumah di Tambora, yang mengalami karbonisasi. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)
JakartaCNN Indonesia -- Setelah melakukan penelitian selama lima tahun, akhirnya tim arkeologi berhasil merekonstruksi ulang rumah masyarakat di kaki Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat, yang terkubur saat gunung itu meletus dua abad silam.

Rumah itu berbentuk panggung dengan ukuran 3x5 meter dan material tiang dari kayu bintango dan kelanggo, kayu lokal yang hampir punah. Dindingnya terdiri dari anyaman bambu dan atapnya dari anyaman daun kelapa. 

Sonny Wibisono, arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, yang terlibat di tim itu, kepada CNN Indonesia, Jumat (8/5), mengatakan cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan berbagai bukti mengenai rumah-rumah orang Tambora. 

Selama empat tahun penelitian, mereka hanya berhasil menemukan sisa-sisa kayu yang menjadi tiang rumah, sambungan-sambungan, sampai jenis-jenis atap yang dipakai. 

Sampai akhirnya pada tahun lalu tim itu berhasil menggali bekas rumah yang unsurnya masih bisa dikenali. Material itu masih memperlihatkan bentuk yang jelas karena proses karbonisasi akibat terbakar letusan gunung Tambora. 

Temuan inilah yang kemudian dipelajari sampai akhirnya menjadi rumah yang sukses didirikan dalam kurun waktu 15-23 April lalu. 

Sisa-sisa rumah yang ditemukan tahun lalu memperlihatkan prinsip-prinsip pendirian rumah saat itu. Tiang yang dipakai oleh masyarakat Tambora ada enam. 

Antar tiang ada sambungan-sambungan. Kemudian sambungan demi sambungan diperkuat dengan tali, tidak memakai paku seperti zaman sekarang. 

“Kami beruntung karena letusan Tambora 200 tahun lalu menyebabkan yang tertimbun jadi arang dan awet selama 200 tahun.,” kata Sonny. “Bagian atas jadi arang, sedangkan bagian bawah habis. Yang arang, kondisinya sama persis seperti dulu, lubang-lubang pasak pun ketemu.”

Gunung Tambora meletus pada 11 April 1815 dan menewaskan puluhan ribu orang, baik yang langsung maupun tak langsung. Diperkirakan ada tiga kerajaan yang terkubur langsung letusan gunung itu. 

Temperatur bumi saat itu juga turun sebanyak rata-rata satu derajat Celcius. Aerosol dari Tambora memenuhi atmosfir, sehingga selain menurunkan temperatur, pertanian juga mengalami gagal panen sehingga menyebabkan kelaparan dan bibit penyakit di Amerika bagian Utara, Eropa, dan Asia. 

“Letusan Tambora membuka mata para ilmuwan bahwa efek letusan gunung api dapat bersifat global,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, kepada CNN Indonesia, di Jakarta, Kamis (9/4). “Tidak ada gunung yang jauh dari jangkauan manakala letusannya mencapai VEI (Volcano Explosivity Index) 7 seperti Tambora.”

Baca juga: FOKUS Mengingat Dahsyatnya Tambora (ded/ded)


Sumber:
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150508131524-199-52061/membongkar-misteri-rumah-tertimbun-letusan-tambora/

Sulitnya Membongkar Misteri Rumah yang Tertimbun Tambora

Sulitnya Membongkar Misteri Rumah yang Tertimbun Tambora

CNN Indonesia
Setelah lapisan tanah dikupas, terlihat enam umpak bekas berdirinya tiang rumah orang Tambora beserta sisa-sisa bangunan yang terbakar. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)
JakartaCNN Indonesia -- Letusan Gunung Api Tambora pada dua abad silam telah menewaskan puluhan ribu orang. Termasuk warga yang berdiam di kaki gunung yang terdapat di Nusa Tenggara Barat itu. 


Satu tim arkeologi berhasil merekonstruksi ulang rumah milik warga yang terkubur material letusan Tambora yang superdahsyat tersebut. Tapi kesulitan pertama, “Data-data awal masih terfragmentasi,” tutur Sonny Wibisono, arkeolog yang terlibat di tim itu, kepada CNN Indonesia, Jumat (8/5). 



Untungnya tim itu akhirnya bisa menggali satu rumah yang relatif lebih lengkap. Mulai dari unsur tiang sampai lubang-lubang pasak pun ditemukan. 



Dari data teranyar ini tim kemudian merekonstruksi ulang, dan disandingkan dengan data-data terdahulu. Tak cuma data, tim juga melakukan analogi dengan rumah-rumah tradisional yang masih ada di sekitar Tambora, contohnya di daerah Wawu. 



Tapi muncul kesulitan kedua, material kayu untuk membangun rumah ternyata sudah sulit dicari.

Dua jenis kayu yang kemungkinan besar dipakai masyarakat Tambora praletusan adalah kayu bintango dan duabanga atau dikenal juga dengan nama kayu kelanggo. 

Tapi kayu itu nyaris tak bisa lagi ditemukan lantaran terjadinya pembalakan tak terkendali di lereng Tambora sejak 1990-an. “Akhirnya kami menemukan kayu-kayu yang istilahnya mati berdiri,” kata Sonny. 

Bahan dinding rumah yang ditemukan dalam penggalian adalah anyaman bambu atau gedheg. Masalahnya tak ada lagi bambu di sekitar Tambora. Akhirnya tim membeligedheg dari tempat lain. 

Begitu pun bagian atap. Tak ada contoh modelnya di dekat situs penggalian. Akhirnya tim melakukan perbandingan ke Pulau Moyo, tak jauh dari daratan Pulau Sumbawa Besar, tempat Tambora berdiri. 
Setelah melalui penelitian panjang, akhirnya contoh rumah masyarakat Tambora bisa direkonstruksi juga. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)

Dari data terdapat beberapa jenis material atap yang dipakai masyarakat Tambora pada masa lalu. Di antaranya adalah atap ijuk, atap alang-alang, anyaman rotan, daun nipah, atau daun kelapa. 

Untuk kemiringan atap, mereka melakukan sejumlah percobaan dan diskusi juga dengan masyarakat dan ilmuwan. Dari sana mereka menyimpulkan sudut kemiringan atap adalah 45 derajat. 

“Karena pada kemiringan itu air hujan sudah bisa mengalir dengan lancar dan tidak sampai bikin atap bocor,” kata Sonny lagi.

Menariknya, saat melakukan penggalian tim juga menemukan jejak jatuhan air di tanah. Dari jejak itu kemudian bisa diproyeksikan sampai batas mana atap berada dalam konstruksi rumah. 
Baca juga FOKUS Mengingat Dahsyatnya Tambora (ded/ded)


Sumber:
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150508132131-199-52062/sulitnya-membongkar-misteri-rumah-yang-tertimbun-tambora/

Membongkar yang Terkubur oleh Dahsyatnya Letusan Tambora

Membongkar yang Terkubur oleh Dahsyatnya Letusan Tambora

Sonny Wibisono/Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, CNN Indonesia
Sabtu, 09/05/2015 10:43 WIB
Artikel belum tersedia
Temuan alat bajak di lokasi penggalian arkeologi di kaki Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)


Sumber:
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150508153942-201-52107/membongkar-yang-terkubur-oleh-dahsyatnya-letusan-tambora/

Membongkar yang Terkubur oleh Dahsyatnya Letusan Tambora

Membongkar yang Terkubur oleh Dahsyatnya Letusan Tambora

Sonny Wibisono/Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, CNN Indonesia
Sabtu, 09/05/2015 10:43 WIB
Artikel belum tersedia
Kerangka manusia korban letusan Gunung Tambora yang digali di dekat temuan arkeologis lain yang diduga sebagai rumah dan permukimannya. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)


Sumber:
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150508153942-201-52107/membongkar-yang-terkubur-oleh-dahsyatnya-letusan-tambora/

Kisah dari Tengkorak di Tambora: Berusaha Lari dan Ketakutan

Kisah dari Tengkorak di Tambora: 

Berusaha Lari dan Ketakutan

CNN Indonesia
Kisah dari Tengkorak di Tambora: Berusaha Lari dan KetakutanKeris yang ditemukan di lokasi penggalian Gunung Tambora. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)
JakartaCNN Indonesia -- Sejumlah penelitian dan penggalian arkeologi telah dilakukan untuk mengungkap detik-detik akhir saat letusan Gunung Tambora memporak-porandakan lingkungan sekitarnya, termasuk manusia. 

Kepala Balai Arkeologi (Balar) Denpasar I Gusti Made Suarbawa mengatakan sampai saat ini sudah ditemukan lima kerangka individu korban letusan Gunung Tambora yang terjadi pada dua abad silam itu. 

Wujud dan konteks kerangka manusia itu menggambarkan betapa mengerikannya letusan itu saat terjadi. Pada 2008, tim dari Balar Denpasar menemukan satu kerangka di dekat Sungai Sori Somba yang berhulu di Gunung Tambora. 

Kerangka pertama ini ditemukan di halaman rumah. “Tampaknya sedang berusaha lari,” kata Suarbawa. 

Si korban ini ditemukan memakai keris yang diselipkan di pinggang. Dia juga memakai gulungan kain sebagai ikat pinggang dan ditemukan kotak tembakau di dalam gulungan itu. 

“Dia juga memakai cincin dengan batu seperti batu akik, tapi warnanya lebih cerah,” kata Suarbawa. “Sudah jelas bahwa itu perhiasan dan keris.” Tak jauh dari posisinya terbaring, ditemukan juga kotak tembakau yang lain serta cincin. 

Kerangka kedua ditemukan pada 2010, juga di dekat temuan pertama. Kerangka ini lebih ekspresif. 

Berdasarkan penuturan Suarbawa, korban ini tampaknya juga berusaha berlari menyelamatkan diri tapi kakinya terjebak di kubangan lumpur. 

“Tampak ekspresi ketakutan dengan tangan yang menutupi wajah,” kata Suarbawa. Tubuh korban ini terhimpit pohon dan reruntuhan rumah. 

Lalu kerangka ketiga ditemukan pada jarak 3 kilometer dari Sungai Sori Somba, tepatnya di sebuah desa bernama Kampung Sumber Urip. Korban ditemukan di dalam rumah. 

Di sekitarnya ditemukan keris, tombak, parang, cincin, dan guci. “Tampaknya dia terjebak dirumah, belum sempat melarikan diri,” tutur Suarbawa. 

Tokoh ini, kata Suarbawa lagi, tampaknya termasuk tokoh masyarakat karena ditemukan masih mengenakan gesper yang bertatahkan permata. Ditemukan juga semacam tempat obat dari keramik Tiongkok dan Vietnam. 

Dua kerangka lainnya ditemukan terlebih dahulu oleh ahli vulkanologi dari Islandia, Haraldur Sigurdsson yang pernah meneliti Tambora pada 2004. Keduanya ditemukan di dapur. 
Berbagai artefak dan rekonstruksi rumah yang tertimbun letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. (Dok. Sonny Wibisono/Puslitbang Arkenas)

Ekonomi Mapan

Dari peninggalan serta, berupa artefak keramik asing dan perhiasan, menurut Suarbawa, masyarakat Tambora saat itu termasuk sudah mapan secara ekonomi. 

Selain benda berharga, arkeolog juga menemukan berbagai perlengkapan sehari-hari yang asalnya dari luar daerah tersebut. Artinya, masyarakat Tambora juga sudah menjalin hubungan dengan masyarakat luar daerah. 

Produk keramik yang ditemukan berasal dari Tiongkok dan Vietnam. Ada juga penemuan botol minuman yang mencirikan minuman dari Eropa. Juga ditemukan uang Belanda. 

“Karena jauh sebelum letusan, orang Belanda sudah ada kontak dengan Kerajaan Tambora dan Sumbawa,” kata Suarbawa lagi. (ded/ded)


Sumber:
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150511112035-199-52467/kisah-dari-tengkorak-di-tambora-berusaha-lari-dan-ketakutan/