Thursday, July 23, 2015

PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA

PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA
Oleh: Edward Simanungkalit *


Di dalam mitologi penciptaan menurut buku: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak”, yang ditulis oleh W.M. Hutagalung (1926:1-32), diceritakan bahwa penghuni awal Sianjurmulamula merupakan keturunan dari penghuni langit ketujuh, Si Borudeak Parujar dan Raja Odapodap. Mereka turun dari langit ketujuh dan kawin di bumi dengan kampung awalnya ialah Sianjurmulamula. Setelah mereka memiliki keturunan Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia, para penghuni langit ketujuh suatu kali secara beramai-ramai turun melalui puncak Pusuk Buhit ke Sianjurmulamula. Setelah misi mereka selesai, maka di bawah pimpinan Mulajadi Nabolon berangkatlah mereka kembali naik ke langit ketujuh melalui Pusuk Buhit disertai Raja Odapodap dan si Borudeak Parujar. Sedang Debata Asiasi dan Raja Inggotpaung tinggal di Sianjurmulamula untuk mengurus Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia. Singkat ceritanya, mereka pun memiliki keturunan di Sianjurmulamula, dan Sianjurmulamula menjadi pusat awal persebaran manusia, karena dari sanalah manusia menyebar seluruh penjuru bumi.
Hasil gambar untuk pusuk buhit
                                                               Pusuk Buhit

Orang Negrito di Humbang
          Orang Negrito adalah ras Australomelanesoid, yang merupakan pendukung budaya Hoabinh, telah lebih dulu datang ke Humbang di Negeri Toba. Peter Belwood (2000:339) menulis bahwa 6.500 tahun lalu telah ada aktivitas manusia di Pea Simsim sebelah barat Nagasaribu, Humbang. Belwood sebenarnya merujuk kepada hasil penelitian paleoekologi yang dilakukan oleh Bernard Kevin Maloney di Humbang. Selain di Pea Sim-sim,  penelitian Maloney masih dilanjutkan  di Tao Sipinggan dekat Silaban Rura, di Pea Sijajap daerah Simamora Nabolak, dan di Pea Bullock dekat Silangit, Siborong-borong. Pendukung budaya Hoabinh itu datang melalui pesisir timur Sumatera bagian Utara dari dataran Hoabinh di dekat Teluk Tonkin, Vietnam.
          Orang Negrito ini memiliki ciri-ciri: berkulit gelap, berambut hitam dan keriting, bermata bundar, berhidung lebar, berbibir penuh, serta berbadan relatif kecil dan pendek. Berdasarkan kedekatan genetik yang ditemukan, maka diketahui bahwa mereka bermigrasi dari Afrika Timur melalui Asia Selatan terus Asia Tenggara hingga Papua. Mereka merupakan bangsa setengah menetap, pemburu, bercocok-tanam sederhana, dan bertempat tinggal di gua. Mereka juga menggunakan kapak genggam dari batu, kapak dari tulang dan tanduk, gerabah berbentuk sederhana dari serpihan batu, batu giling, dan mayat yang dikubur dengan kaki terlipat/jongkok dengan ditaburi zat warna merah, mata panah dan flakes. Makanannya berupa tumbuhan, buah-buahan, binatang buruan atau kerang-kerangan. Kebudayaan Hoabinh berasal dari zaman batu tengah di masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu.

Orang Taiwan di Sianjurmulamula
          Orang Taiwan dari ras Mongoloid sampai ke Sianjurmula-mula di sekitar 800 tahun lalu (+/- 200 tahun) berdasarkan hasil penelitian arkeologi yang dilakukan Balai Arkeologi Medan di Kabupaten Samosir pada Juli 2013. Dengan melakukan kegiatan ekskavasi dan survey arkeologi, maka disimpulkan bahwa para pendukung budaya Dong Son ini telah datang dari China Selatan melalui Taiwan, terus ke Filipina dan dilanjutkan lagi ke Sulawesi. Kemudian terus ke Sumatera hingga sampai di Sianjurmulamula (Wiradnyana & Setiawan, 2013:7). Penulis lebih condong berpendapat bahwa mereka masuk dari Barus ke Sianjurmulamula mengingat Barus merupakan pelabuhan niaga internasional pada masa itu dan jaraknya  lebih dekat daripada pantai Timur.
          Budaya Dong Son ini merupakan hasil karya kelompok bangsa Austronesia dari ras Mongoloid, dan bangsa Austroasiatik juga umumnya dari ras Mongoloid. Kebudayaan Dong Son ini merupakan kebudayaan zaman perunggu di mana mereka  telah mengenal teknologi pengolahan logam, pertanian, berternak, menangkap ikan, bertenun, membuat rumah, dll. Masyarakat Dong Son adalah masyarakat petani dan peternak yang handal dan terampil menanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka  juga dikenal sebagai masyarakat pelaut, bukan hanya nelayan, tetapi juga pelaut yang melayari seluruh Laut Cina dan sebagian laut-laut selatan dengan perahu yang panjang bercadik dua.

Studi Genetik Orang Toba
          Mark Lipson (2014:87) meneliti bahwa DNA Orang Toba terdiri dari: Austronesia 55%, Austroasitik 25%, dan Negrito 20%. Orang Taiwan yang datang ke Sianjurmulamula adalah suku Ami dan suku Atayal yang merupakan suku asli Taiwan. Mereka merupakan keturunan suku H’Tin dari Thailand yang merupakan pendukung kebudayaan Austroasiatik. Suku H’Tin, pendukung kebudayaan Austrosiatik ini,  mengalami percampuran dengan pendukung budaya Dong Son dari kelompok kebudayaan Austronesia. Keturunan suku H’Tin yang sudah bercampur tadi inipun bermigrasi ke Taiwan membentuk suku Ami dan Atayal, sehingga kedua suku ini merupakan campuran Austronesia dan Austroasiatik. Mereka ini juga bermigrasi sampai ke Sianjurmulamula dan bercampur lagi dengan Orang Negrito yang lebih dulu tiba di Humbang, terbukti dari DNA Orang Toba yang memiliki unsur Negrito  (Lipson, 2014:83-90).

          Akhirnya, penghuni awal Sianjurmulamula ternyata bukan keturunan penghuni langit ketujuh yang naik-turun melalui puncak Pusuk Buhit, tetapi datang dari Taiwan. Pusuk Buhit tidak ada hubungannya dengan keberadaan Orang Toba, karena Orang Toba adalah campuran antara Orang Negrito dengan Orang Taiwan. Orang Negrito jauh lebih dulu datang ke Humbang daripada orang Taiwan datang ke Sianjurmulamula, sehingga terbukti bahwa bukan dari Sianjurmulamula awal persebaran manusia. Cerita Pusuk Buhit hanyalah mitos, bukan fakta. Pusuk Buhit, Dolok Pinapan, Dolok Martimbang, Dolok Sipisopiso, Dolok Simarjarunjung, Dolok Tolong dan dolok lainnya sama kedudukannya bagi Orang Toba. Artinya, Pusuk Buhit tidak memiliki kekhususan tersendiri bagi Orang Toba. ***


Catatan Kaki:
*** ORANG TOBA: Asal-usul, Budaya, Negeri, dan DNA-nya; dan, ORANG TOBA: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito; ORANG TOBA: Bukan Keturunan Si Borudeak Parujar; oleh Edward Simanungkalit.




(*)  Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban

Sunday, July 19, 2015

Gua Tanah Bumbu di Kalsel Pernah Dihuni Manusia Prasejarah

Gua Tanah Bumbu di Kalsel Pernah Dihuni Manusia Prasejarah

Batulicin, HanTer - Gua yang berada di Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, pernah dihuni oleh manusia prasejarah sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi (SM) untuk tempat tinggal.
 
"Ada bukti kuat bahwa gua tersebut pernah dihuni oleh manusia prasejarah yakni, dengan ditemukannya artefak sisa makanan berupa cangkang kerang," Kata Kepala Dinas Olahraga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tanah Bumbu M. Thaha, di Batulicin, Kamis (2/4).
 
Selain di temukannya sisa-sisa makanan berupa cangkang kerang, di dalam gua tersebut juga di temukan pecahan batu sisa alat rumah tangga, artefak kerangka manusia.
 
Peneliti arkeologi prasejarah juga menemukan lukisan di dalam gua yang ada di Kecamatan mentewe, Tanah Bumbu.
 
Dia menjelaskan, penelitian arkeologi prasejarah di Tanah Bumbu berasal dari Balai Arkeologi Banjarmasin sejak 2006 sudah beberapa lama melakukan penelitian di tiga desa di Kecamatan Mentewe, yakni, Desa Mantewe, Rejosari, dan Bulurejo.
 
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Pemerintah Tanah Bumbu menyambut positif bagi pengembangan wisata alam atau gua yang berada di daerah tersebut.
 
"Dengan ditemukannya jejak manusia prasejarah sekitar 3.000 tahun SM tentunya menambah nilai ilmu pengetahuan, nilai sejarah dan nilai budaya di Kabupaten Tanah Bumbu." Kedepannya, lanjut Thaha, Dinas Olahraga Budaya dan Pariwisata TanahBumbu akan membentuk tim untuk kajian kelayakan menjadikan Bukit Liang Bangkai dan Goa Sugung sebagai situs cagar budaya nasional.
 
Tidak menutup kemungkinan pula akan dijadikan warisan dunia, dari data yang disampaikan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin yang telah berhasil menemukan situs-situs prasejarah di Kabupaten Tanah Bumbu.


(ruli)


Sumber:
http://www.harianterbit.com/hanterdaerah/read/2015/04/02/24246/81/20/Gua-Tanah-Bumbu-di-Kalsel-Pernah-Dihuni-Manusia-Prasejarah



Jalan Sunyi Para Penggali Peradaban

Jalan Sunyi Para Penggali Peradaban

Tak ada pujian, apalagi tepuk tangan. Hanya suara-suara alam yang menemani mereka di bentangan bukit-bukit karst yang sepi, tempat rangka puluhan manusia prasejarah ditemukan terkubur selama ribuan tahun di sana.
Para peneliti arkeologis dibantu sejumlah tenaga lokal melakukan penggalian lanjutan di lokasi temuan rangka manusia prasejarah di situs Gua Harimau di wilayah Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, akhir April 2015.
KOMPAS/KENEDI NURHANPara peneliti arkeologis dibantu sejumlah tenaga lokal melakukan penggalian lanjutan di lokasi temuan rangka manusia prasejarah di situs Gua Harimau di wilayah Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, akhir April 2015.
Di sini waktu seperti berhenti. Pagi, siang, dan senja hanya bisa dirasakan pada "jam tubuh" mereka yang sudah terbiasa beradaptasi dengan alam. "Tahu-tahu hari sudah sore," kata Asep.
Asep adalah arkeolog muda dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Selama dua pekan terakhir di bulan April 2015, ia ikut terlibat dalam ekskavasi lanjutan di situs prasejarah Gua Harimau di wilayah Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Gua Harimau, itulah nama yang diberikan penduduk di sana. Gua Harimau, itu pula nama resmi yang sejak 2008 masuk dalam peta penting penelitian arkeologi prasejarah Indonesia. Masyarakat setempat dan kalangan ilmuwan memang menggunakan kata "gua" (juga dalam pelafalannya, seperti halnya lema yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia), bukan "goa" yang salah kaprah itu untuk menyebut liang atau lubang besar di kaki perbukitan.
Lokasi ceruk itu cukup tersembunyi. Persis di pinggang perbukitan karst, tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Sejak dua tahun lalu, jalan setapak yang terjal penuh semak yang menutup pinggang bukit sudah dipapas, dibuatkan anak-anak tangga hingga ketinggian sekitar 50 meter. Di bawahnya, sungai kecil (penduduk menyebutnya Aek Kaman Bawah) yang lebih menyerupai parit mengalir dan bermuara ke Sungai Ogan.
Saat ditemui di lokasi penelitian, Asep sedang duduk di atas bongkahan batu di sisi luar Aek Kaman Bawah. Bersama dua tenaga lokal yang membantunya, siang itu Asep sibuk mengayak tanah bercampur batu kerakal dan serpih-serpih aneka bentuk dari hasil galian sehari sebelumnya di sektor galeri barat Gua Harimau.
Tanah galian itu diturunkan dari ceruk yang ada di dinding tebing bukit ke bibir sungai dengan cara dikerek dengan seutas tali. Tiap sebentar, suara Rully-juga arkeolog muda; dari Balai Arkeologi Palembang-menyeru dari atas, menginformasikan bahwa ember-ember plastik berisi material galian yang diikatkan di kerekan tali siap diluncurkan, menyusur tebing berkemiringan kurang dari 45 derajat.
"Kebanyakan sisa-sisa fauna, seperti cangkang, labi-labi, moluska, siamang, monyet, dan ikan. Di antara sisa-sisa fauna itu juga terdapat artefak batu, juga serpih dan rijang. Umumnya terbuat dari batu obsidian," kata Asep sembari menunjukkan serakan hasil temuan mereka yang digeletakkan di pinggiran sungai.
Temuan spektakuler
Dunia mereka adalah masa silam yang dingin, terkurung dalam dinding tebing batu berceruk di pinggang bukit. Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti menyebutnya rumah peradaban masa silam. Sementara Prof Harry Truman Simanjuntak, ahli prasejarah dari Puslit Arkenas, mengibaratkannya sebagai "real estat" prasejarah.
Baik ahli paleoantropologi Harry Widianto maupun Truman Simanjuntak melihat betapa penting keberadaan situs Gua Harimau. Selama ini Sumatera dianggap bukanlah kawasan penting untuk melacak keberadaan manusia prasejarah. Selain tak kunjung ditemukan rangka manusia, jejak peradaban berupa lukisan gua dari masa paleolitikum ataupun neolitikum seperti banyak ditemukan di wilayah Indonesia timur-terutama di Sulawesi dan Kalimantan-juga tak pernah tersingkap keberadaannya di Sumatera.
Baru pada penelitian intensif tahun 2008, tim yang "dimandori" Truman Simanjuntak berhasil mengupas lapisan budaya prasejarah di Gua Harimau dan Pondok Silabe lewat temuan mereka yang tergolong spektakuler. Hingga penggalian terbaru pada April 2015, sedikitnya 82 individu rangka manusia purba-sebagian bahkan masih terlihat utuh-sudah diidentifikasi berasal dari 4.000-2.500 tahun lalu.
Malah di sektor galeri barat, pada kedalaman dua meter, tim kembali menemukan rangka manusia. Persis di sisi kanan bawah tebing galian sebelumnya di kotak yang sama, tempat rangka terdahulu ditemukan pada kedalaman kurang dari satu meter. Rully menyebut fenomena ini sebagai "kuburan bertingkat".
"Dari hasil analisis karbon C-14 terhadap artefak yang ada di sekitarnya, didapat pertanggalan dari masa sekitar 14.000 tahun lalu," ujar Truman Simanjuntak.
Tak pernah dalam sejarah ekskavasi di satu situs prasejarah di Tanah Air ditemukan rangka manusia sebanyak itu. Dari ciri-ciri morfologis rangka temuan, Harry Widianto menyimpulkan bahwa manusia penghuni Gua Harimau didominasi oleh ras Mongoloid.
Meski demikian, dalam penelitian lanjutan juga ditemukan beberapa rangka bercirikan Australomelanesid. Ras ini pendahulu ras Mongoloid yang bermigrasi ke Nusantara di akhir Zaman Es pada sekitar 11.000 tahun lampau. Adanya rangka individu ras Australomelanesid di antara puluhan ras Mongoloid di Gua Harimau itu memunculkan dugaan sempat terjadi semacam "perjumpaan" antargenerasi di antara mereka.
Data temuan semakin lengkap ketika pada penelitian tahun 2009, arkeolog E Wahyu Saptomo menemukan guratan-guratan pada dinding belakang gua yang diidentifikasi sebagai lukisan purba. Pindi Setiawan, ahli komunikasi visual dari FSRD ITB yang mendalami fenomena lukisan prasejarah-ia dilibatkan dalam penelitian tahun 2010-memastikan bahwa guratan-guratan berwarna dasar merah kecokelatan tersebut adalah ciri khas lukisan manusia purba.
Menyadari potensi besar kawasan situs prasejarah Gua Harimau, hampir setiap terjun ke lapangan, Truman Simanjuntak menyempatkan untuk menyosialisasikan arti penting keberadaan tinggalan prasejarah di kawasan ini. Di pekan terakhir April lalu, misalnya, di hadapan para kepala desa, ia memaparkan potensi arkeologis yang ada di sana untuk menggugah mereka agar ikut melestarikannya.
Jika para arkeolog prasejarah melacak peradaban masa silam hingga ke lereng-lereng bukit di tengah hutan, arkeolog "klasik" Nurhadi Rangkuti dan rekan-rekannya dari Balai Arkeologi Palembang kini mulai fokus pada serangkaian penggalian di kawasan rawa di pantai timur Sumatera. Di sini, di wilayah Karang Agung Tengah, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, mereka harus berkubang lumpur di dalam lubang-lubang galian.
"Kami sedang mengembangkan penelitian arkeologi lahan basah, wetland archaeology. Di sini bertaburan situs permukiman pra-Sriwijaya," kata Nurhadi.
Penggalian arkeologis di pantai timur Sumatera Selatan sudah dilakukan secara intensif sejak 2001. Sejumlah temuan sudah didata. Umumnya berupa sisa-sisa bangunan tempat tinggal bertiang kayu dengan berbagai perlengkapan hidup sehari-hari. Juga sisa-sisa tulang manusia, antara lain berupa fragmen tempurung kepala, gigi, tulang belakang, dan beberapa sisa tulang lainnya yang belum bisa diidentifikasikan.
"Analisis C-14 pada sampel tiang kayu mengindikasikan situs ini berasal dari abad ke-4 Masehi," kata Nurhadi terkait penelitian mereka pada minggu ketiga Mei 2015 di lokasi yang jauh dari "zona nyaman" sebagai seorang ilmuwan.
Masalahnya, masih adakah di antara kita yang peduli pada kerja kebudayaan yang mereka lakukan? Masih adakah bentuk penghargaan yang patut kita persembahkan untuk mereka yang lebih memilih jalan sunyi, jauh dari riuh dan gelimang materi serta tepuk tangan di panggung depan negeri kata-kata ini? Masih adakah?

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juni 2015, di halaman 1 dengan judul "Jalan Sunyi Para Penggali Peradaban".

Sumber:http://print.kompas.com/baca/2015/06/04/Jalan-Sunyi-Para-Penggali-Peradaban




Arkelog Temukan Sawah Kuno di Temanggung

Arkelog Temukan Sawah Kuno di Temanggung  

KAMIS, 28 MEI 2015 | 09:57 WIB
Arkelog Temukan Sawah Kuno di Temanggung  
Sejumlah pekerja membersihkan bangunan kuno berupa pagar batu di situs Liyangan, Purbosari, Temanggung. ANTARA/Anis Efizudin
TEMPO.COTemanggung - Tim ekskavasi Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menemukan tiga lajur gundukan tanah yang diduga sebagai pematang areal pertanian.

Ketua tim ekskavasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto, di Temanggung, Kamis, 28 Mei 2015, mengatakan temuan bentuk pematang tersebut berada di atas ujung jalan batu.

"Temuan ini memperkuat dugaan kami adanya areal pertanian di situs ini, selain areal ibadah dan areal hunian," katanya.

Sugeng menuturkan bentuk pematang tersebut sejajar dengan talut batu yang berada di sebelahnya. Panjang sementara pematang sekitar dua hingga tiga meter.

Menurut Sugeng, bentuk pematang tersebut berada di bawah lapisan material erupsi Gunung Sindoro.

"Kami harus mengerjakannya secara hati-hati, tidak bisa menggunakan benda tajam. Untuk mengetahui bentuk aslinya kami cukup menggunakan kuas guna membersihkan material yang menutupinya," katanya.

Pihaknya mengambil sampel tanah di sekitar temuan pematang untuk diambil serbuk sari yang tercecer guna mengetahui jenis tanaman yang ada di areal pertanian tersebut.

Ia mengatakan untuk mengamankan, temuan tersebut sementara ditutup dengan karung plastik dan disekelilingnya diberi pita pengaman.

Sugeng menuturkan pada ekskavasi yang berlangsung pada 12-27 Mei 2015, tim membuka dua lokasi.

Lokasi pertama di bagian teras empat untuk membuka lebih luas temuan bangunan yang pada ekskavasi 2014 baru ditemukan bagian sudut dengan dua jaladwara dan lokasi kedua di atas ujung jalan batu.

Pada lokasi pertama setelah dibuka lebih luas, menurut dia, bangunan yang terdapat jaladwaranya tersebut, berukuran 4,5 x 5,5 meter. Bangunan menghadap tenggara atau ke arah jalan batu.

"Arahnya sama dengan arah candi-candi yang ditemukan sebelumnya di teras satu dan tiga juga menghadap ke tenggara," katanya.

Di bagian depan bangunan tersebut terdapat empat jaladwara atau saluran air. Di sisi kiri atau timur laut terdapat enam jaladwara tetapi lima di antaranya telah rusak saat erupsi Gunung Sindoro abad X.

Sugeng mengatakan di bagian belakang ternyata terdapat area yang tersambung dengan bangunan tersebut, antara bangunan belakang dengan bagian depan ada saluran air. Dari belakang ke arah depan itu, ada saluran air.

"Karena ditemukan saluran air dari belakang ke bagian depan itu kami belum bisa memastikan apakah itu petirtaan atau candi," katanya.

ANTARA

Sumber:
http://seleb.tempo.co/read/news/2015/05/28/114670174/arkelog-temukan-sawah-kuno-di-temanggung


Arkeolog: Pelaut Jawa Pengaruhi Peradaban Jepang

Arkeolog: Pelaut Jawa Pengaruhi Peradaban Jepang

SABTU, 19 OKTOBER 2013 | 16:34 WIB
Arkeolog: Pelaut Jawa Pengaruhi Peradaban Jepang
Petani berjalan di ladang persawahan yang di dipasangi pagar plastik di kawasan Sambirejo, Plupuh, Sragen, Jawa Tengah, Rabu (8/8). ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo
TEMPO.COMagelang - Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo mengatakan pelaut dari kawasan  Austronesia, khususnya dari Jawa di masa lampau menyebar hingga ke Jepang dan memempengaruhi peradaban Negeri Matahari Terbit ini.

Austronesia merujuk pada peradaban maritim wilayah nusantara. "Pelaut Austronesia membantu peradaban penduduk Jepang sehingga menghasilkan peradaban tinggi," kata Daud dalam seminar membahas  Kemampuan Maritim Nusantara, Sabtu, 19 Oktober 2013. Ini merupakan rangkaian acara Borudur Writers and Cultural Festival di Hotel Manohara, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 17-20 Oktober 2013.

Daud merujuk pada buku Ann Kumar berjudul Globalizing the Prehistory of Japan: Language, Gene, and Civilization menggambarkan bukti hubungan nusantara dengan munculnya peradaban Jepang. Ann Kumar, kata Daud mendapat gambaran yang utuh tentang hubungan peradaban Jepang dan Jawa.

Pelaut Austronesia mengenalkan tradisi bertanam padi di sawah, metalurgi, dan tenun, senjata, anyaman, dan piring sebagai unsur budaya baru. Ada juga pranata kerajaan, kekerabatan, dan keagamaan.

Daud menyebutkan peradaban Austronesia mendorong perubahan budaya di Jepang, yakni budaya Jomon pada 10.000-2.500 tahun lalu menjadi Budaya Yayoi pada 2.500 tahun lalu. Budaya Yayoi menjadi peletak dasar budaya Jepang yang berkembang hingga saat ini.

Budaya ini adalah hasil pengaruh budaya pelaut Austronesia dari Jawa yang berlayar hingga wilayah Kyushu. " Data pertanian padi, gigi, tengkorak, bahasa, dan genetika dirangkai seperti puzzle," kata Daud yang lulusan Australian National University Australia.

Temuan Kumar, kata Daud yang membuat tesis tentang Island in Betweeb, Prehistory of Northeastern Indonesian Archipelago menguatkan hipotesis tentang pelaut Austronesia yang mencapai Jepang. Misalnya Oppenheimer dalam buku berjudul Eden in the East.

Buku itu membahas pengaruh pelaut Austronesia terhadap peradaban Jawa. Namun, temuan itu menurut Daud harus dikuatkan dengan banyak bukti.

SHINTA MAHARANI

Sumber:
http://nasional.tempo.co/read/news/2013/10/19/079522981/arkeolog-pelaut-jawa-pengaruhi-peradaban-jepang



Arkeolog: Sriwijaya Menjajah Hingga Madagaskar

Arkeolog: Sriwijaya Menjajah Hingga Madagaskar

SABTU, 19 OKTOBER 2013 | 19:25 WIB
Arkeolog: Sriwijaya Menjajah Hingga Madagaskar
Seorang anak buah kapal (ABK) melintas di depan deretan kapal Phinisi yang bersandar di dermaga Pelabuhan Paotere, Makassar, Senin (18/4). Pelabuhan Paotere masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat seperti Phinisi, Lambo, kapal-kapal motor nelayan dan pedagang antar pulau juga menjadi pusat niaga nelayan, dengan adanya fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang dibangun pemerintah setempat. TEMPO/Subekti
TEMPO.COMagelang - Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Daud Aris Tanudirjo, menyebut pelaut Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjelajah hingga mencapai Madagaskar di timur Benua Afrika sekitar abad ke-6 atau ke-7. “Ini terjadi saat kerajaan Sriwijaya berjaya di Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia,” kata Daud dalam seminar membahas Kemampuan Maritim Nusantara, Sabtu, 19 Oktober 2013. Ini merupakan rangkaian acara Borudur Writers and Cultural Festival di Hotel Manohara, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 17-20 Oktober 2013.

Menurut Daud, bahasa Malagis di Madagaskar menjadi bukti dampak kolonialisasi pelaut Austronesia. Ia mengatakan Austronesia merujuk pada peradaban maritim wilayah nusantara atau mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa Austronesia. Secara geografis ini berada di belahan bumi mulai dari Taiwan dan Hawai di bagian utara hingga Selandia Baru di selatan. Pada bagian barat Austronesia menjangkau hingga Madagaskar. Sedangkan, di bagian timur meliputi hingga Pulau Paskah di selatan Samudera Pasifik, masuk wilayah Chili.

Bahasa Malagis mirip dengan Bahasa di sekitar Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Bukti lain adalah hasil penelitian arkeolog Kamerun di Benua Afrika menemukan fitolit pisang atau unsur silika seperti kaca dalam tanaman. Fitolit itu ditemukan sekitar 2.500 tahun lalu. Selain pisang, padi juga mengandung fitolit.

Daud menyebut fitolit yang arkeolog temukan di Kamerun memiliki banyak kemiripan dengan tanaman yang tumbuh di nusantara. Ada juga persamaan bentuk alat musik, yakni kecapi dan seruling. Bukti itu, kata Daud menggambarkan peran pelaut Austronesia dalam penjelajahan Samudera Hindia sejak awal zaman logam atau akhir masa Neolitik. Pelaut Austronesia melakukan perjalanan jarak jauh karena perahu atau kapal mereka cukup tangguh mengarungi lautan.

Daud mengatakan kolonialisasi Sriwijaya terhadap Madagaskar terjadi karena banyak pendatang dari nusantara terutama yang kini sebagian besar wilayah Indonesia, membangun pos penguasaan wilayah. Mereka jumlahnya semakin berkembang dan membawa pengaruh peradaban terhadap Madagaskar. Kolonilasi Sriwijaya terhadap Madagaskar bukan dalam pengertian penjajahan seperti yang dilakukan Belanda ke Indonesia. Kolonialisasi yang Daud maksud lebih merujuk pada kuatnya pengaruh orang-orang Sriwijaya terhadap peradaban Madagaskar.

SHINTA MAHARANI

Sumber:
http://nasional.tempo.co/read/news/2013/10/19/079523012/arkeolog-sriwijaya-menjajah-hingga-madagaskar

Arkeolog Tegaskan Pusat Sriwijaya di Palembang

Arkeolog Tegaskan Pusat Sriwijaya di Palembang

JUM'AT, 28 NOVEMBER 2014 | 10:23 WIB
Arkeolog Tegaskan Pusat Sriwijaya di Palembang
Pekerja menggali tanah di petak ekskavasi situs Liyangan, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, 25 November 2014. TEMPO/Suryo Wibowo
TEMPO.COPalembang - Tim peneliti dari Balai Arkeologi Palembang mengeksvakasi tiga tempat berbeda di Palembang dalam satu pekan terakhir ini. Mereka mencari petunjuk yang memperkuat temuan sebelumnya yang menyebutkan Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. 

Retno Purwanti, salah seorang peneliti, berujar, dalam pekan pertama ini, mereka menemukan struktur bangunan kuno, pecahan keramik, dan tulang hewan. Beragam temuan itu semakin memperkuat penelitian sebelumnya yang menyimpulkan Kerajaan Sriwijaya berpusat di Palembang. “Bisa kami pastikan pusat Sriwijaya itu adanya di Palembang, bukan di tempat lain,” kata Retno Purwanti, Jumat, 28 November 2014. (Baca juga: Arkeolog Sriwijaya Menjajah Hingga Madagaskar)

Pernyataaan Retno diperkuat oleh temuan prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Sabokingking, dan situs-situs masa Kejayaan Sriwijaya. Hingga saat ini, temuan tersebut sebagian besar masih dapat dilihat masyarakat. Dalam penelitian terbaru ini, para arkeolog hanya mencari bukti tambahan sebagai penguat temuan sebelumnya.

Menurut Retno, Palembang sebagai pusat Sriwijaya sudah diketahui dari abad ketujuh hingga kesepuluh. Selanjutnya, pada 1982-1992, terdapat penelitian yang dilakukan para arkeolog dari luar negeri dan dalam negeri. Mereka adalah O.W. Wolter, E.E. McKinnon, Hermann Kulke, Pierre-Yves Manguin, Bambang Budi Utomo, dan dirinya. 

Dari penelitian panjang itu, menurut Retno, para arkeolog tidak ragu menyimpulkan bahwa Palembang merupakan  pusat Kerajaan Sriwijaya. “Saya sendiri ikut penelitian sejak awal dulu, dan kami sudah publikasikan hasilnya,” tutur Retno.

Budi Wiyana, peneliti lainnya, berujar, dalam penggalian di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, pihaknya menemukan serpihan pecahan keramik yang memiliki nilai sejarah tinggi. Pecahan keramik tersebut merupakan bukti sejarah adanya hubungan kuat antara Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, dan Dinasti Ching dari Tiongkok. “Pecahan keramik kami kumpulkan untuk diteliti lebih lanjut,” katanya.

PARLIZA HENDRAWAN


Sumber:
http://nasional.tempo.co/read/news/2014/11/28/058625067/arkeolog-tegaskan-pusat-sriwijaya-di-palembang