Monday, May 18, 2015

Pasemah Sindang Merdeka : Eksistensi Dan Aneksasi Belanda

Ukiran Rumah Kuno Besemah
Sumatera Selatan sebagai salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai peran yang tidak sedikit dalam melawan penjajahan atau Imperialisme.Tercatat beberapa peperangan besar pernah terjadi di wilayah yang disebut Sumatera Selatan kini. Perang Palembang I, Perang Palembang II, Perang Pasemah atau Besemah 1854-1866 serta Perang Lima Hari Lima Malam. Dari kesemua perang ini, aksi-aksi heroik selalu ditunjukkan oleh Tokoh-tokoh Lokal Sumatera Selatan. Salah satu perang besar yaitu Pergolakan Rakyat Besemah atau Pasemah pada tahun 1854 hingga 1866.

Besemah atau Pasemah sendiri merupakan salah satu daerah yang sekarang masuk wilayah Sumatera Selatan. Dalam peta pertama yang dibuat oleh Opnemer Ullman dan Steck pada tahun 1860 menunjukkan "Pasemah atau Besemah Lebar", yang di sekelilingnya terdapat daerah-daerah Pasemah Ulu Manak disebelah Selatan, Pasemah Ulu Lintang di sebelah Barat Laut, sedang jauh di balik Bukit Barisan adalah Pasemah Air Keruh. Ketiga daerah ini penduduknya berasal dari daerah Pasemah Lebar yang bisa dilihat dari adat istiadat serta Bahasa yang sama meskipun ada beberapa perbedaan dari beberapa suku kata dengan penduduk di Pasemah Lebar. 

van Rees dalam karangannya pada tahun 1870 mengenai pandangan seorang pendatang Belanda mengenai daerah Pasemah atau Besemah menyatakan "Tot aan het jaar 1866 leefde aan de Zuidoostelijke helling van het woeste Barisan geberte een volk, dat nog nimmer het hoofd had gebogen voor machtig naburen en waarvan enige stammenzich zelven den naam Merdika,d.i. vrij haden gegenen. Van de zuidwestzijde moeilijk te genaken door de Benkulenezen, van drie kanten ingesloten door hooge bergen, en gedekt door uitgestrekte wildernissen der Palembangsche binnenladen, had het volk weinig moeite gekost zijn vrijheid te handha ven; en zelfs na de anexatie der omliggende landen, zou het nog lang op zijn onafhankkelijkheid hebben kunnen baken indien het niet door inwendige beroering tot een staat van volkomen regeringlossheid had gegeven tot zijn inlijving in het groote gebied der blanken waarvan geheel Sumatra nog slechts een onderdeel vas".

Adapun arti dari karangan itu adalah sebagai berikut : "Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang menghuni     perbukitan yang ganas di daerah Tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah tunduk kepada suku tetangga yang lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menamakan dirinya Rakyat Bebas Merdeka. Dari Barat Daya sulit untuk ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dilingkupi oleh bukit-bukit yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat serta luas di daerah pedalaman Palembang. Oleh karena itu tak heran mereka dapat mempertahankan kebebasannya, bahkan setelah daerah sekelilingnya telah dianeksasi atau diambil alih oleh Belanda. Mereka mungkin akan jauh lebih lama lagi menikmati kemerdekaan mereka, jika saja tidak ada kerusuhan dan kekacaun didalam yang menyebabkan daerah ini sepenuhnya tidak berpemerintahan, sampai dengan masuknya ke dalam daerah besar kekuasaan Belanda, dimana seluruh Sumatra masih merupakan bagiannya).

Dari karangan ini dapat kita lihat bagaimana Rakyat Sumatera Selatan khususnya wilayah Pasemah menjunjung tinggi kebebasan dan kemerdekaan. Ketika Belanda ingin menguasai daerah ini mereka harus menghadapi perlawanan yang sengit. Butuh waktu lama bagi Belanda untuk menundukkan daerah ini, tokoh-tokoh seperti Tuanku Imam Perdipo atau Toeankoe Lebih Penghoeloe atau Pidaran, Pangeran Tumenggung,  dan tokoh lainnya berjuang sekuat tenaga menghadapi Belanda. Pertempuran-pertempuran besar terjadi di Daerah Kota Agung, Munter Alam serta Tebat Serut. Namun, lambat laun kekuatan Pasemah atau Besemah semakin berkurang, hal ini disebabkan oleh perselisihan yang terjadi di internal rakyat Pasemah seperti yang dinyatakan oleh van Rees diatas. Salah satunya adalah perselisihan antara Tuanku Imam Perdipo yang merupakan ipar dari Pangeran Tumenggung (Kepala Sumbai Ulu Lurah/ Kepala Lampik Empat) dengan Piruhun pemimpin dari Gumai Ulu. Tidak jelas apa yang menyebabkan perselisihan hingga terbunuhnya orang tua Piruhun ini dan semenjak itu pula dendam antara Piruhun (Gumai Ulu) dengan Tuanku Imam Perdipo (Pasemah). Meskipun sempat didamaikan, dendam ini terus berlanjut dan pada waktu Tuanku Imam Perdipo dikejar Belanda tahun 1866 sampai ke Mekakau (Sindang Danau), Piruhun dengan pengikutnya tetap ikut mengejarnya disamping Belanda. Perselisihan-perselisihan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda dengan politik devide et impera mereka.

Sumber :
- Pasemah Sindang Merdika : 1999 (Kamil Mahruf dkk)
http://www.semuatentangsejarah1.tk/2013/06/pasemah-sindang-merdeka-eksistensi-dan.html

No comments:

Post a Comment