Friday, September 11, 2015

BUKU TELAH TERBIT


Telah Terbit!


Buku:




Daftar Isi:

KATA PENGANTAR ................................................................................................................   i
DAFTAR ISI ..........................................................................................................................  iii
BAB 1. PENDAHULUAN ..........................................................................................................   1
BAB 2. GUNUNG TOBA DI SUNDALAND .................................................................................. 12
BAB 3. PESISIR TIMUR SUMATERA BAGIAN UTARA ................................................................. 17
BAB 4. ORANG NEGRITO DI NEGERI TOBA .............................................................................  21
BAB 5. ORANG TAIWAN DI NEGERI TOBA ............................................................................... 25
BAB 6. ANALISA DNA ORANG TOBA ........................................................................................ 31
BAB 7. FAKTA DI SEPUTAR MITOS SIANJUR MULAMULA .......................................................... 36
BAB 8. PENUTUP ................................................................................................................... 49
KEPUSTAKAAN
BIODATA PENULIS
LAMPIRAN: SUNGGUH, ORANG TOBA BUKAN ISRAEL YANG HILANG


Ringkasan Isi:

   Setelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu, maka migrasi mulai dari Afrika ke kawasan Sundaland sejak 70.000 tahun lalu. Mereka menyusuri pesisir selatan India hingga tiba di Sundaland, sedang sebagian lagi terus ke Papua dan Australia. Selama 50.000 tahun Sundaland didiami oleh banyak manusia, sehingga mengundang perhatian ilmuwan dunia masa kini. Kemudian, sejak 20.000 tahun lalu banyak terjadi letusan gunung, gempa, dan banjir yang menyebabkan penghuni Sundaland ini berhamburan ke Asia. Mencairnya es pada zaman es akhir membuat permukaan laut naik hingga Sundaland  tenggelam memisahkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil lainnya dari Malaka.
  Periode berikutnya mulailah migrasi dari Asia ke bekas kawasan Sundaland tadi. Pertama, Orang Negrito bermigrasi dari Teluk Tonkin, Vietnam ke Kalimantan, Jawa, dan Sumatera pada masa Mesolitik, 10.000 - 6.000 tahun lalu, sedang di Malaysia disebut Orang Asli seperti suku Semang. Kedua, sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu, para penutur Austroasiatik bermigrasi dari Cina Selatan melalui Vietnam, Kamboja, dan Khmer terus ke Malaka hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ketiga, sekitar 4.000-an tahun lalu, para penutur Austronesia bermigrasi dari Cina Selatan melalui Taiwan terus ke Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Jadi, ketiga kelompok inilah yang merupakan leluhur masyarakat di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.  Hasil test DNA Gayo, Karo, Toba, Melayu, Riau, dan Minangkabau menunjukkan juga ada unsur Negrito, Austroasiatik, dan Austronesia, sehingga meneguhkan migrasi leluhur yang dikemukakan sebelumnya.
       Pada tahun Masehi, orang Tamil dari India Selatan datang ke Sumatera bagian Utara dan bercampur dengan masyarakat prasejarah sebelumnya. Berdasarkan gambaran itu sulit membayangkan di mana posisi Si Raja Batak yang keturunannya disebut-sebut membentuk etnik Pakpak-Karo-Simalungun-Mandailing, karena sudah ada masyarakat sebelumnya.  Penghuni awal Sianjur Mulamula yang datang sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu berasal dari Suku Amis dan Suku Atayal, suku asli Taiwan. Oleh karena itu, semakin tidak habis dimengerti kalau dikatakan bahwa masyarakat prasejarah di atas tadi dikatakan keturunan dari penghuni awal Sianjur Mulamula. Bahkan Orang Tamil yang datang ke tanah Pakpak-Karo-Simalungun-Mandailing tidak mungkin juga dilahirkan penghuni awal Sianjur Mulamula yang Orang Taiwan itu. Dengan demikian, betapa mustahilnya Si Raja Batak menjadi nenek-moyang bagi etnik Pakpak-Karo-Simalungun-Mandailing. Hal ini membuat sejarah Toba  harus ditulis ulang. Sungguh sangat tidak arif-bijaksana kalau kita mewariskan mitos dan folklore (turiturian) bagi anak-cucu kita di abad ke-21 ini.  
    Akhirnya, selain perlu dibaca oleh Orang Toba, buku ini juga perlu dibaca oleh Orang Pakpak-Karo-Simalungun-Mandailing, karena hubungan Si Raja Batak secara genealogis dengan Pakpak-Karo-Simalungun-Mandailing diungkapkan dalam buku ini dengan jelas! ***






Sunday, September 6, 2015

Harry Truman Simanjuntak, 38 Tahun Mengabdi di Dunia Arkeologi

Harry Truman Simanjuntak, 38 Tahun Mengabdi di Dunia Arkeologi

Thu, 08/20/2015 - 14:33
Jakarta, Kemendikbud --- Peneliti senior di bidang arkeologi pada Pusat Penelitian Arkelogi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harry Truman Simanjuntak, hari ini, Kamis (20/8/2015) menerima penghargaan ilmu pengetahuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Penghargaan bergengsi di bidang ilmu pengetahuan LIPI Sarwono Award itu diberikan oleh Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain di Gedung LIPI, Jakarta.
 
Harry Truman Simanjuntak merupakan ilmuwan yang secara konsisten selama 38 tahun menekuni bidang arkeologi/prasejarah. Saat ini beliau bekerja di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Truman, demikian pria berkacamata ini akrab disapa, lahir di Pematang Siantar pada 27 Agustus 1951. Ia adalah anak ke-7 dari 11 bersaudara dari pasangan Josia Simanjuntak dan Samaria Siahaan. Truman menghabiskan masa kecil dan remaja di sebuah kampung di pinggiran Kota Siantar.
 
Setelah lulus SMA pada 1970, ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Sumatera Utara, Medan atas arahan orangtuanya. Namun ia memutuskan untuk pindah di tahun pertamanya ke Yogyakarta karena merasa passion-nya adalah di bidang sejarah dan arkeologi. Akhirnya ketika kembali mengambil kuliah hukum di Universitas Atmajaya pada 1973, ia juga mendaftarkan diri di jurusan arkeologi Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada.
 
Truman merangkap kuliah hingga menyelesaikan sarjana muda hukum. Setelah itu ia memilih konsentrasi di bidang arkeologi hingga menyelesaikan pendidikan arkeologinya pada tahun 1979. Truman menerima banyak tawaran pekerjaan arkeologi di akhir 1970-an, seperti pemugaran Candi Borobudur serta menjadi pengajar.
 
Ia kemudian bekerja di Balai Arkeologi Yogyakarta atas tawaran Prof. Dr. Panji Sujono yang merupakan ahli prasejarah sekaligus Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Pada tahun 1986 ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Institut de Paleontologie Humaine, Paris, Perancis. Di institut ini, Truman mendapatkan gelar masternya pada tahun 1987, kemudian menyelesaikan pendidikan doktor di institut yang sama pada 1991.
 
Truman menikah pada 1982 dengan Rohana Yuliati dan dikaruniai dua anak bernama Ruth Simanjuntak dan Levi Simanjuntak. Atas pengabdian terhadap bangsa dan negara, Truman berturut-turut mendapat penghargaan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun pada 1997, Satyalancana Karya Satya 20 Tahun pada 2006, dan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun pada 2014.
 
Truman terlibat pada banyak penelitian tentang dunia prasejarah. Sejumlah hasil penelitiannya terkait penelusuran prasejarah Indonesia, seperti penelitian Hominid/Palaeolitik di Jawa, Sumatera, Kalimatan, Sumba, dan Maluku; penelitian kehidupan kala Plestosen akhir hingga Holosen awal; penelitian budaya neolitik; dan penelitian budaya Megalitik/Paleometalik di sejumlah situs di tanah air. Penelitian-penelitian tersebut menjadi sumber rujukan nasional dan internasional.
 
Hasil riset dan petualangan arkeologinya ke seluruh penjuru Indonesia telah mengungkap betapa Indonesia adalah kawasan yang sangat penting untuk mengetahui evolusi manusia dan budaya. Tidak banyak wilayah di dunia bisa menghidupi manusia sejak masa begitu tua, karena temuan-temuan Homo erectus tidak banyak di dunia ini. Hanya ada di beberapa tempat, salah satunya adalah Indonesia.

Seperti diungkapkannya sendiri dalam sambutan usai menerima penghargaan, Truman telah tertarik dengan bidang arkeologi sejak di bangku Sekolah Rakyat. “Ketika itu, ibu guru saya mengatakan “Borobudur sebuah candi yang sangat besar dan megah. Jika kalian rajin belajar, suatu saat pasti dapat mengunjungi sekaligus mengagumi keindahannya.” Kata-kata itu sederhana, tetapi telah memotivasi saya untuk tertarik pada arkeologi,” tuturnya.
 
Menurut Kepala LIPI, Iskandar, bagi Truman, mengungkap siapa manusia nusantara masa lalu dan misteri kehidupan mereka sangatlah menarik. Berpuluh tahun kemudian, mimpi Truman tidak pernah berhenti. Kini lebih dari 150 karya tulis telah dipublikasikan dalam bentuk artikel, monografi, prosiding, makalah, dan lain-lain.
 
“Beliau pun dinobatkan sebagai professor riset dengan orasi pengukuhan “Pluralisme dan Multikurturalisme dalam Prasejarah Indonesia” pada 2006 silam. Dedikasi, kontribusi, dan produktivitas publikasi ilmiahnya di berbagai jurnal internasional menjadikan Prof. Truman menjadi peneliti berkelas dunia dan dapat menjadi inspirasi bagi dunia penelitian serta sivitas peneliti untuk secara sungguh-sungguh fokus dan mengembangkan kepakarannya,” jelas Iskandar.
 
Bagi Truman, penghargaan yang diterimanya ini justru menjadi introspeksi sekaligus memotivasi dirinya untuk berbuat lagi bagi bangsa ini. “Penghargaan LIPI Sarwono merupakan penghargaan yang sangat terhormat, mengingat kita ketahui bersama Prof. Sarwono seorang tokoh yang memiliki visi yang besar dalam mempersatukan berbagai bidang keilmuwan di dalam satu institusi. Tentu sifat yang sudah dipraktikkan Prof. Sarwono itu menjadi acuan bagi para peneliti di masa sekarang, bahwa penelitian tidak bisa berdiri sendiri, perlu kerja sama dan berinteraksi dengan keahlian-keahlian lain,” katanya. (Ratih Anbarini/dari berbagai sumber)

Sumber:
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/4517



Truman Simanjuntak dan Pluralisme Prasejarah Nusantara

Truman Simanjuntak dan Pluralisme Prasejarah Nusantara

Penelitian arkeologinya menyiratkan: Pluralitas sudah terlihat sejak manusia tertua menghuni Jawa. Menghapus kebinekaan hanya membuat negeri ini hancur.

Truman Simanjuntak dan Pluralisme Prasejarah NusantaraEkskavasi di Gua Harimau di Baturaja, Sumatra Selatan. Selain menemukan 80 kerangka individu selama 2009-2015, di gua itu Truman Simanjuntak dan timnya juga menyelisik tinggalan gambar cadas pertama di Sumatra. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)
“Arkeologi berangkat dari kelampauan, bermuara pada kekinian, dan berproyeksi ke masa depan...,” ucap Profesor Riset Harry Truman Simanjuntak dengan intonasi yang mantap. “Luar biasa bukan?”

“Tetapi,” dia buru-buru melanjutkan, “arkeologi adalah ilmu yang sepi dari tepuk tangan, langka dalam perbincangan, dan jauh dari kemewahan atau kekayaan.”
“Pak Truman”, demikian sapaan akrabnya, tengah memberikan sambutan atas penghargaan ilmu pengetahuan LIPI Sarwono Award 2015 pada Kamis pagi, 20 Agustus 2015 di Jakarta. Sosoknya dikenal sebagai ahli arkeologi bidang prasejarah dari Pusat Arkeologi Nasional. Dia juga peneliti utama dan sekaligus pendiri Center for Prehistory and Austronesian Studies.

Sarwono Award mulai dianugerahkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sejak 2002, dan Truman merupakan orang ke-23 yang menerimanya. Penghargaan ini diberikan kepada perorangan yang telah menunjukkan prestasi luar biasa dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan kemanusiaan. Sarwono Award digelar untuk mengenang jasa Prof.Dr. Sarwono Prawirohardjo. Dia merupakan salah satu ilmuwan terkemuka yang berperan besar dalam pembangunan kelembagaan ilmu pengetahuan di Indonesia, yang kelak menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Selama 38 menekuni dunia arkeologi, Truman telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk menelusuri prasejarah Indonesia. Sederet hasil penelitiannya—tentang hominid dan palaeolitik di penjuru Indonesia, mengungkap kehidupan Plestosen Akhir sampai Holosen Awal, hingga budaya Megalitik—telah menjadi rujukan banyak peneliti dunia.

“Para leluhur Nusantara telah menorehkan karya-karya besar yang mendunia mendahului zamannya,” ujarnya. “Nilai-nilai ini mestinya dapat memotivasi bangsa kita di masa sekarang dan masa datang untuk meraih capaian-capaian yang mendunia, mengikuti bahkan melebihi para leluhurnya.”

Dalam orasi pengukuhannya sebagai profesor riset pada 2006, Truman pernah mengungkapkan mengenai kemajemukan dalam prasejarah Indonesia. “Kita tidak bisa menghindar dari pluralisme,” ungkapnya. “Hanya kehancuran jika bangsa Indonesia dipaksakan seragam.” Keseragaman hanya akan membuat negeri ini hancur, hemat Truman, dan apabila negeri ini bangkit selepas kehancurannya pun kelak muncul keanekaragaman lagi. Artinya, membangun bangsa ini harus berdasarkan kebinekaan. “Ini yang harus ditonjolkan agar Indonesia menjadi sebuah bangsa yang berperadaban khas.”
Truman Simanjuntak berangkat ...Truman Simanjuntak berangkat menuju Gua Harimau, membelah jalan setapak di perbukitan karst Baturaja, Sumatra Selatan. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Tatkala jumpa pers usai menerima Sarwono Award, Truman mengungkapkan kembali orasi ilmiah tersebut. Pada kenyataannya memang pluralisme telah mewarnai Indonesia. Bahkan, kata Truman, pluralisme itu ada sejak masa kehidupan penutur Austronesia—kita mengenalnya sebagai leluhur kita—yang menghuni Nusantara sekitar 4.000 tahun yang lalu. “Sejak manusia tertua menghuni Jawa, pluralitas sudah terlihat,” ujarnya, “baik dalam bentuk fisik manusianya maupun dalam bentuk budayanya.”

Nusantara memiliki kebudayaan yang sangat beragam di setiap daerah, kendati kawasan itu juga memiliki kebudayaan umum yang merupakan kebudayaan dasar—Truman menyebutnya sebagai neolitic package.  

Para penutur Austronesia itu membawa budaya ke Nusantara. Lantaran evolusi lokal dan masuknya pengaruh luar yang berbeda di setiap bagian nusantara, perkembangan budaya itu melahirkan kekhasan lokal. Truman mencontohkan, kebinekaan itu muncul dalam unsur-unsur budaya—corak tembikar, pembuatan kain dari kulit kayu, ragam mata panah. “Fakto-faktor yang memengaruhi kebinekaan itu ada semua di sini,” ujarnya, “mulai lingkungan sampai keletakan geografisnya, maupun kondisi geografisnya.”

Selain kebinekaan dalam kebudayaan, Nusantara juga memiliki kebinekaan untuk kelompok manusia yang menghuninya karena pengaruh adaptasi lokal. Penutur Austronesia awal telah beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda, hingga menciptakan tampilan manusia yang berbeda dan budaya berbeda. “Misal nutrisi yang berbeda di setiap tempat yang menimbulkan kekhasan,” ujar Truman. “Ini yang disebut etnogenesis Indonesia.”
Truman Simanjuntak, berbusana ...Truman Simanjuntak, berbusana lengan panjang, dan Awang Harun Satyana, bertas pinggang, sedang beramah tamah dengan warga Sangiran yang dahulu mencari fosil untuk dijual. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)
Kegandrungan Truman dalam dunia arkeologi bukan kebetulan. Dia mengenang, keinginan itu bertumbuh sejak dia duduk di Sekolah Rakyat. Gurunya pernah berkisah tentang kemegahan Borobudur dan berwasiat kepada murid-muridnya bahwa bila mereka rajin belajar, pasti mereka akan sampai ke candi itu. Bagi Truman, pernyataan sederhana itu teringiang-ngiang terus dalam pikirannya. “Artinya apa,” kata Truman retorik, “kita membutuhkan guru yang inspiring di sekolah!”

Modal utama untuk tertarik arkeologi atau sejarah, demikian hemat Truman, adalahpassion atau minat atau kegemaran untuk mengetahui sesuatu. Namun, bagi yang tidak punya kegemaran dalam bidang tersebut, passion dapat ditumbuhkan lewat pendidikan, ungkapnya.

SAYA MENGENAL TRUMAN dari dekat sekitar tiga tahun silam. Ketika itu saya mendapat penugasan National Geographic Indonesia ke Gua Harimau di Baturaja, Sumatra Selatan. Truman dan timnya tengah melanjutkan penelitian menyingkap gua yang mengekalkan gambar cadas dan kompleks permakaman purba terlangka di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Gua ini spektakuler karena menyimpan gambar cadas pertama yang ditemukan di Sumatra. Kisah feature itu terbit dalam edisi Januari 2013, berjudul “Tapak Jejak Pitarah Sumatra”.

Ketika itu Truman bersama timnya telah menemukan 66 kerangka individu. Namun, kini, mereka sudah menemukan 80 kerangka individu.
Di pondokan, yang lokasinya tak jauh dari Sungai Ogan, kami selalu sarapan bersama sebelum berangkat ke gua. Truman kerap membuka percakapan tentang kemajuan penelitian yang dicapai timnya. Setahu saya, dia memang sosok yang serius—apalagi bergelar profesor riset. Namun, dalam kehidupan bersama dalam satu pondokan, saya menemukan sosoknya yang humoris dengan kelakarnya yang mencairkan kebekuan pagi.

Di lokasi ekskavasi pun Truman menjelaskan segala sesuatunya dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, lengkap dengan ekspresi khasnya. Belakangan saya tahu, kelugasannya dalam memaparkan temuan penelitian ini lantaran dirinya juga berpengalaman menulis dengan gaya populer di media massa. Barangkali, tidak semua peneliti mempunyai keterampilan ini.

Singkat kata, meskipun kami berada di tengah hutan, Truman dan timnya telah membuat jurnalis seperti saya seolah berada di pekarangan rumah sendiri.
Di situs keramat warisan dunia, Sangiran, Jawa Tengah, saya berkesempatan menyaksikan fosil kranium dari stegodon dan kerbau purba yang baru saja ditampakkan lewat ekskavasi oleh Truman dan timnya. Ketika itu saya mendapat penugasan dariNational Geographic Traveler untuk kisah feature “Melintasi Sangkala di Cekungan Purba”, terbit November 2013.
Arkeolog senior Truman ...Arkeolog senior Truman Simanjuntak (bertopi hitam) dan Geolog senior Awang Harun Satyana (bertopi putih) bersama staf Museum Sangiran sedang mengobservasi potensi penelitian arkeologi baru di sekitar kawasan Sangiran. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Dalam sebuah kesempatan, kami menghabiskan sehari penuh mengobservasi Sangiran dan menjumpai warganya. Saya kagum menyaksikan Truman sebagai sosok yang menjalin kelindan dengan warga setempat. Kendati dia lahir dan tumbuh dalam adat Pematangsiantar, lelaki itu ternyata fasih berbahasa Jawa halus. Bahkan, warga setempat masih mengenal nama dan sosoknya.

Truman memang sudah berulang kali mendatangi situs warisan dunia itu. Tampaknya, kemampuan berbahasa Jawanya terasah sejak semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada dan bekerja di Balai Arkeologi Yogyakarta. Dia bermukim di kota itu sekitar 1973 hingga 1986, sebelum akhirnya dia melanjutkan kuliah master dan doktornya di Paris, Prancis.

TRUMAN BERHARAP PEMERINTAH memerhatikan tentang pentingnya penelitian dan mendesaknya kebutuhan sumber daya peneliti. Dia berkeluh kesah soal dana penelitian yang kecil. Sejatinya, Truman pernah mengatakan hal ini kepada saya ketika ekskavasi di Gua Harimau dan Sangiran. Betapa setiap tahun, timnya terkendala waktu penelitian yang hanya dua hingga tiga minggu—yang idealnya bulanan. Menurut hematnya, sudah sepantasnya pemerintah memberikan semacam kompetisi antarpeneliti untuk membuat proposal penelitian yang cemerlang. Proposal yang memenuhi kriteria akan mendapatkan pendanaan.

Kini, dia prihatin dengan minimnya sumber daya peneliti di lembaganya. Berbeda dengan LIPI yang tahun-tahun silam masih mendapatkan peneliti baru, ungkapnya, Pusat Arkeologi Nasional sudah beberapa tahun terakhir tidak mendapatkan peneliti baru. Seharusnya, setiap tahun harus ada rekrutmen peneliti baru supaya ada pembinaan berlapis. Truman berharap kepada pemerintah seyogianya jangan menyamaratakan moratorium pegawai karena “penelitian harus terus berjalan.”

“Kalau sekarang kita betul-betul moratorium,” ujarnya. “Jadi ada keterputusan antara peneliti dengan jam tinggi dan jam terbang menengah.” Kemudian dia melanjutkan, “Negara tanpa penelitian akan hancur atau mati. Tidak ada kemajuan. Karena lewat penelitianlah ada ide-ide baru kemajuan pengetahuan.”

Truman menerima penghargaan Sarwono Award tepat satu minggu sebelum hari ulang tahunnya. Tampaknya, penghargaan itu merupakan bingkisan semesta alam yang turut merayakan gempita hari jadinya yang ke-64.

Selamat atas penghargaan bergengsi ini, dan selamat ulang tahun, Pak Truman!
Kepala LIPI Prof. Dr. Ir. ...Kepala LIPI Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain memberikan selamat kepada Prof. (Riset) Dr. Harry Truman Simanjuntak, yang menerima penghargaan LIPI Sarwono Award 2015 pada 20 Agustus 2015. (Humas LIPI)

Journalist | Text Editor National Geographic Indonesia


Sumber:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/truman-simanjuntak-dan-pluralisme-prasejarah-nusantara



Temuan Pra Sejarah Bawa Truman Gondol Sarwono Award

Temuan Pra Sejarah Bawa Truman Gondol Sarwono Award

Temuan Pra Sejarah Bawa Truman Gondol Sarwono Award
Warga melintas di situs Liyangan, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, 25 November 2014. Tim ekskavasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan bangunan di bagian sudut tenggara berupa pilar sudut dan dua buah jaladwara atau saluran air berukir motif makara pada Senin lalu. TEMPO/Suryo Wibowo
TEMPO.COJakarta - Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mendapat Penghargaan Sarwono Prawirohardjo (Sarwono Award) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atas pengabdiannya selama 38 tahun sebagai peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

"Tahun ini LIPI Sarwono Award diberikan kepada Harry Truman Simanjuntak, seorang doktor pada bidang prasejarah sekaligus peneliti dan profesor riset pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang konsisten selama 38 tahun menekuni penelitian arkeologi," kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain pada acara pemberian penghargaan di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2015.

Iskandar mengatakan bahwa Harry Truman punya banyak prestasi dan berperan banyak dalam kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia. Antara lain lewat penelitian mengenai masa silam Nusantara dalam konteks Asia Tenggara dan Oseania.

Harry juga melakukan penelitian Hominid/Palaelitik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sumba, dan Maluku; kehidupan masa Plestosen Akhir-Holosen Awal. Selain itu riset tentang budaya Neolitik dan Megalitik atau Paleometalitik di sejumlah situs di Tanah Air yang hasilnya menjadi sumber rujukan nasional dan internasional. 

"Dia mengungkap betapa Indonesia kawasan penting untuk pengetahuan evolusi manusia dan budaya. Tidak banyak wilayah di dunia yang bisa menghidupi manusia sejak masa tuskarena temuan Homo Erectus tak banyak di dunia. Hanya ada di beberapa tempat, salah satunya di Indonesia," kata Iskandar.

LIPI Sarwono Award merupakan bentuk penghormatan kepada Sarwono Prawirohardjo, orang pertama yang memimpin lembaga itu sekaligus Bapak LIPI. Penghargaan itu diberikan kepada tokoh yang berperan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

ANTARA

Sumber:
http://m.dev.tempo.co/read/news/2015/08/20/095693725/Temuan-Pra-Sejarah-Bawa-Truman-Gondol-Sarwono-Award


Mengenang Sejarah 70 Tahun Indonesia Merdeka

Mengenang Sejarah 70 Tahun Indonesia Merdeka

Mengenang Sejarah 70 Tahun Indonesia Merdeka
Museum Negeri Sumut di Jalan HM Joni (Gedung Arca) menjadi salah satu tempat tujuan wisata sejarah. (Analisa/James P Pardede)
Jumat, 14 Agustus 2015 | 12:06
Analisadaily (Medan). Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk mengenang sejarah, termasuk sejarah negara kita dalam memperebutkan kemerdekaan. Indonesia merdeka dan memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 (70 tahun yang lalu) di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.
Di beberapa daerah di Indonesia, momen kemerdekaan itu diproklamirkan. Di Sumatera Utara, khususnya kota Medan, Proklamasi Kemerdekaan RI berkumandang di Lapangan Merdeka Medan. Sejarah kemerdekaan Republik Indonesia bisa kita kenang lewat buku-buku sejarah dan dokumen digital yang tersimpan rapi di museum.
Museum, menjadi satu-satunya saksi sejarah dalam mendokumentasikan segala sesuatu yang menjadi perjalanan peradaban sebuah bangsa. Di Sumatera Utara, ada satu Museum yang paling besar, bernama Museum Negeri Sumatera Utara. Di dalam museum ini ada peninggalan sejarah budaya bangsa, hasil seni dan kerajinan dari berbagai suku di Sumatera Utara.
Peran Pers dalam Perjuangan Kemerdekaan RI
Peran Pers dalam Perjuangan Kemerdekaan RI
Museum ini di dirikan pada tahun 1954 dan diresmikan pada tanggal 19 April 1982. Museum ini merupakan museum yang terbaik di Indonesia. Peletakan koleksi pertama dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, tahun 1954 berupa makara. Oleh karena itu museum ini terkenal dengan nama Gedung Arca. Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara terletak di Jalan H.M.Joni No. 15 Medan.
Bangunan museum berdiri di atas lahan seluas 10.468 meter persegi, terdiri dari bangunan induk dua lantai yang difungsikan sebagai ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang audio-visual, ruang Kepala Museum, tata usaha, ruang seksi bimbingan, perpustakaan, ruang mikro film, ruang komputer, serta gudang. Secara arsitektur, bentuk bangunan induk museum ini menggambarkan rumah tradisional daerah Sumatera Utara. Pada bagian atap depan dipenuhi dengan ornamen dari etnis Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Nias.
Sejak memasuki gedung museum ini, kita akan disambut dengan jajaran pakaian adat beberapa suku di Sumatera Utara. Dokumen dalam bentuk digital juga disediakan di museum ini dengan monitor layar sentuh. Perjalanan mengenang sejarah lewat wisata ke Museum Negeri Sumut ini diawali dengan cerita Masa Prasejarah, dimana ditampilkan sejarah geologi mulai terbentuknya alam semesta, pergeseran benua, dan Pulau Sumatera. Sejarah alam mengenai migrasi manusia, sebaran flora dan fauna, juga mengenai kehidupan prasejarah. Koleksi yang ditampilkan meliputi replika hewan khas Sumatera, replika fosil manusia purba, diorama kehidupan prasejarah, serta beragam perkakas prasejarah.
Di bagian ruanga lainnya ada cerita tentang Pengaruh Hindu-Buddha, dimana menampilkan koleksi peninggalan agama Hindu-Buddha yang ditemukan di daerah Sumatera Utara, diantaranya temuan arkeologi dari situs Percandian Padang Lawas dan situs Kota Cina. Benda koleksi meliputi arca batu, perunggu, pecahan keramik, dan mata uang kuno, juga sebuah replika candi induk dari Candi Bahal I.
Ada juga sejarah masuknya Islam ke Sumut, hingga sejarah perjuangan masa kini yang menampilkan berbagai artefak peninggalan masa Islam seperti replika berbagai batu nisan dari makam Islam yang ditemukan di daerah Barus, Sumatera Utara. Serta nisan peninggalan Islam yang bercorak khas Batak, beberapa Al Qur'an, dan naskah Islam tua yang ditulis dengan tangan. Serta sebuah replika Masjid Azizi di Medan. Lainnya berasal dari beberapa daerah lain di Indonesia dan dari negara lain seperti Thailand.
Pengunjung yang datang ke Museum Negeri Sumut berasal dari berbagai kalangan.
Pengunjung yang datang ke Museum Negeri Sumut berasal dari berbagai kalangan.
Dari data yang diperoleh di buku Museum Negeri Sumut, museum ini menyimpan kurang lebih 8.000 koleksi yang dapat dikelompokkan ke dalam sepuluh jenis, yaitu benda-benda geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik dan heraldik, filologi, keramik, senirupa, dan teknologi.
Saat berkunjung ke museum ini, di lantai satu ada ruangan khusus yang menampilkan perjuangan Indonesia memperebutkan kemerdekaan dari penjajah. Cerita tentang Agresi Militer I sampai Agresi Militer II, ada juga cerita tentang Peran Pers dalam Kemerdekaan RI, deretan foto Gubernur yang pernah memimpin di Sumatera Utara serta beberapa koleksi benda-benda bersejarah yang digunakan pada masa sebelum kemerdekaan RI.
Wisata sejarah di Sumatera Utara, salah satu alternatif pilihannya adalah mengunjungi Museum Negeri Sumut. Ada juga beberapa museum lainnya yang menyipan sejarah tentang kemerdekaan RI. Seperti Gedung Juang 45 di Jalan Pemuda, Museum Perjuangan TNI di Jalan Zainul Arifin.
Mengenang sejarah kemerdekaan RI sesungguhnya sudah bisa kita lakukan lewat berselancar di dunia maya, tapi untuk melihat langsung benda-benda bersejarah dan saksi sejarahnya, kita harus mengunjungi museum yang ada di daerah kita masing-masing. Dirgahayu Indonesiaku !

Sumber:
http://news.analisadaily.com/read/mengenang-sejarah-70-tahun-indonesia-merdeka/160966/2015/08/14