Tuesday, May 19, 2015

Hasil Penelitian Ceruk Mendale Di Seminarkan

Hasil Penelitian Ceruk Mendale Diseminarkan

Hasil penelitian tentang asal usul suku Gayo diseminarkan dalam Sarasehan bertajuk“Gayo Merangkai Identitas” Digelar di Takengon, kabupaten Aceh Tengah. Rabu

Seminar yang membahas Hasil penelitian dan eskavasi Loyang Mendale dan sekitarnya yang dilakukan oleh sejumlah arkeolog dari Balai Arkeologi Medan Sumatera Utara serta uji tes deoxyribonucleic acid (DNA) terhadap ratusan warga dataran tinggi Gayo dan sampel gigi kerangka masusia pra sejarah Loyang Mendale Kabupaten Aceh Tengah di gelar di Gedung Olah Seni Takengon.

Hadir sebagai pemateri Drs. Ketut Wiradnyana arkeolog dari Balai Arkeologi Medan Sumatera Utara, Drs. Muhammad Syukri, MPd, mewakili Bupati Aceh Tengah, Yusra Habib Abdul Gani  yang merupakan Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark, serta Prof DR M Dien Majid yang merupakan guru besar di Universitas Islam Nasional (UIN) Jakarta dan Dr. Safarina G Malik dari Eikjman Institute.  Acara yang dipandu oleh Khalisuddin ini diikuti oleh berbagai kalangan di masyarakat Gayo.

Dalam acara tersebut juga  diluncurkan  buku berjudul “Gayo Merangkai Identitas,” yang ditulis 2 orang arkeolog dari Balar Medan, Drs. Ketut Wiradnyana dan  Taufikurrahman Setiawan dengan pengantar dari Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak dan penerbit Obor, untuk cetakan pertama, Pemkab Aceh Tengah mencetak buku  tersebut sebanyak 1200 eksmplar.

Ketut Wiradnyana dalam pemaparan hasil hasil penelitian dalam uji DNA dari Lembaga Molekuler Eijkman Jakarta, Dr. Safarina Giofani Malik berjudul “Asal Usul Urang Gayo”. Dan terakhir sebagai pembanding tampil Muchlis Gayo SH dengan judul makalah “Urang Gayo dan Kebudayaan”.


Dr. Safarina G Malik dari Eikjman Institute  dalam pemaparan materinya mengatakan, hasil tes DNA terhadap sampel darah 300 lebih siswa dan siswi SMA di Takengon yang diambil awal tahun 2011 lalu, Dia menyatakan bahwa dari hasil tes DNA tersebut dapat disimpulkan bahwa kekerabatan genetik antara populasi Gayo dengan Karo sangat dekat, setelah membandingkan 3 populasi yaitu Gayo-Karo-Toraja.

Menurutnya, yang tinggi adalah keanekaragam genetik pada populasi suku Gayo. Mayoritas populasi suku Gayo masuk dalam haplogroup M yaitu salah satu haplogroup bangsa Austronesia. Populasi Austronesia berada di Indonesia bagian Barat, dan populasi Austroloid di Indonesia bagian Timur dengan daerah antara di kepulauan Nusa Tenggara Timur.

Menyangkut dengan kekerabatan genetik antara populasi Gayo dengan Karo, selama ini diasumsikan bahwa orang Karo yang bermigrasi ke Gayo. Namun berdasarkan hasil penelitian arkeologis di Ceruk Mendale, sebagaimana diungkapkan Prof DR Bungaran A Simanjuntak dalam buku “Gayo Merangkai Identitas” (2011) terungkap adanya migrasi masa Neolitik melalui jalur Barat.

Sejalan dengan itu, tulis Bungaran, juga memunculkan hipotesis akan akar budaya Neolitik di Sumatera bagian Utara yang dimungkinkan dimulai dari wilayah Tanah Gayo dan kemudian menyebar ke Tanah Batak. “Ini mematahkan asumsi selama ini yang menyatakan bahwa suku Gayo berasal dari orang Batak yang bermigrasi ke daerah ini,” tegas Ketut Wiradnyana dalam pemaparan materinya.

 “Acara ini merupakan serangkain kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencari indentitas suku Gayo, kita berharap hasil penelitian ini akan menjadi referensi bagi generasi muda Gayo untuk mengetahui asal usul mereka” ujar Khalisuddin yang merupakan salah satu penggagas acara tersebut.


Sumber:
http://www.kebergayo.com/2011/12/hasil-penelitian-ceruk-mendale-di.html


No comments:

Post a Comment