Monday, May 18, 2015

SEJARAH TERLENGKAP SUKU PASMA/PASEMAH/BESEMAH

SEJARAH TERLENGKAP SUKU PASMA/PASEMAH/BESEMAH


Besemah suatu terminology lebih dikenal dekat dengan satu bentuk kebudayaan dan suku yang berada disekitar gunung Dempo dan pegunungan Gumay. Wilayah ini dikenal dengan Rena Besemah. Sedangkan untuk terminology politik dan pemerintahan, dipergunakan nomenklatur Pasemah. Pada masa kolonial oleh Inggris dan Belanda menyebutnya Pasumah, bahkan sampai sekarang Pemerintah Republik Indonesia masih menyebutnya Pasemah.
Sekilas Sejarah Besemah
Ilustrasi menarik mengenai tempat orang-orang Pasemah pernah dituliskan oleh JSG Grambreg, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang ditulisnya tahun 1865 sebagai berikut:
Barang siapa yang mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu. kemudian menjejakkan kaki di tanah kerajaan Palembang yang begitu luas; dan barang siapa yang melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang) menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah. Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat, dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Dari kutipan itu tampak bahwa saat itu wilayah Pasemah masih belum masuk dalam jajahan Hindia Belanda. Operasi-operasi militer Belanda untuk menaklukkan Pasemah sendiri berlangsung lama, dari 1821 sampai 1867. Johan Hanafiah budayawan Sumatra Selatan, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan Melawan Penjajah Abad 19 tersebut menyebutkan bahwa perlawanan orang Pasemah dan sekitarnya ini adalah perlawanan terpanjang dalam sejarah perjuangan di Sumatera Selatan abad 19, berlangsung hampir 50 tahunlamanya.Johan Hanafiah juga menyatakan bahwa pada awalnya orang-orang luas, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya orang-orang Pasemah. Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824) menyebutnya dengan Passumah. Namun kesan yang dimunculkan adalah bahwa orang-orang Passumah ini adalah orang-orang yang liar. Dalam The British History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna tahun 1797. Disebutkan pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di daerah-daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan kematian-kematian karena penyakit cacar.Pemakaian nama Passumah sebagaimana digunakan oleh orang Inggris tersebut rupanya sudah pernah pula muncul pada laporan orang Portugis jauh sebelumnya. Disebutkan dalam satu situs internet bahwa Portugis pernah mendarat di Pacem atau Passumah (Puuek, Pulau Sumatra) pada bulan Mei 1524. Namun, dari korespondensi pribadi dengan Marco Ramerini dan Barbara Watson Andaya, diperoleh konfirmasi bahwa yang dimaksudkan dalam laporan Portugis itu adalah Aceh, bukan Pasemah seperti yang dikenal ada di Sumatra Selatan sekarang. Hal ini juga terindikasi dari lokasi Pacem itu sendiri yang dituliskan berada pada 05_09’ Lintang Utara – 97_14’ Bujur Timur). Gunung Dempo sendiri yang disebut -sebut oleh Gramberg di atas berada pada posisi 04_02’ Lintang Selatan – 103_008’ Bujur Timur.Nama Pasemah yang kini dikenal sebetulnya adalah lebih karena kesalahan pengucapan orang Belanda, demikian menurut Mohammad Saman seorang budayawan dan sesepuh di sana. Adapun pengucapan yang benar adalah Besemah sebagaimana masih digunakan oleh penduduk yang bermukim di sana. Namun yang kini lebih dikenal adalah nama Pasemah. Konon, munculnya nama Besemah adalah karena keterkejutan puyang Atong Bungsu manakala melihat banyak ikan “Semah” di sebuah sungai yang mengalir di lembah Dempo. Yang terucap oleh puyang tersebut kemudian adalah “Be-semah” yang berarti ada banyak ikan semah di sungai tersebut. Hal ini juga tertulis dalam sebuah manuskrip kuno beraksara Latin berjudul Sejarah Pasemah yang tersimpan
Jeme Besemah adalah orang-orang pemberani, Diakui oleh penulis kolonial. Berwatak setia kawan,Dan loyal terhadap komitmen yang membuat saudara Ataupun teman seperjuangan Sultan Palembang, Meneruskan perjuang setelah Sultan Mahmud Badaruddin II Dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1821. Orang-orang Sindang Merdika di besemah menolak tindakan Belanda tersebut. Mereka meneruskan perjuangan di besemah pada tahun 1821 Sampai 1866. Bahkan pada saat-saat pertempuran melawan Belanda Di Palembang 1821 Sampai sekarang masih belum jelas Dari mana sebenarnya asal usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarangBerlaku juga bagi suku besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh berabad-abad sebelum hadirnya mitos AtungBungsu, ditanah Besemah, dilereng Gunung Dempo dan daerahSekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan tradisiMegalitik dan bukti-bukti budaya megalitik ditanah besemah sampaiSekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah Sekarang ini adalah keturunan dari Pendukung budaya megalitik tersebut ?Pengenalan orang-orang Eropa, terutama Belanda dan Inggris Terhadap orang Besemah pada awalnya sangat apriori. Orang Belanda dengan picik menyebutkan :## dat de Pasoemhers zonen gebragt ( orang pasemah tak akan diajak bicara jika tidak diberi unjuk kekuatan militer ) Demikian juga Sir Tomas Raffles, seorang Gubernur Jendral Di Bengkulu, pertama kali dia menganggap orang Besemah sebagai The pasumahs were a savage, ungovernable race, and that no termscould ever be made with them (Orang Pasemah adalah buas, ras yang tidak berpemerintahan dan tidak ada istilah yang dapat sesuai untukmereka.) Setelah menempuh perjalanan yang berat dan melelahkan mendakiGunung dan bukit serta menembus belantara, bertemula Raffles Dengan orang Besemah. Perjalanannya ini adalah perjalanan khusus untuk mententramkan orang besemah.Who I Want to Meet:Tegakkah Ganti Nga Tungguan, Jangan Manakah Batu Ke Luagh!!! MAKIN tenggelamkah "Sindang Merdike" saat ini? Menurut budayawan besemah "Mohammad Saman"..Begitu kekuatan Belanda merambah ke Besemah,Mulailah terjadi pergeseran nilai-nilai adat, budaya, danSistem pemerintahan di tanah besemahDampak berikut juga menyentuh berbagai peran dan fungsiLembaga-lembaga lama yang ada di masyarakat ke lembaga Baru yang sesuai dengan keinginan penguasa.Lembaga-lembaga lama misalnya hukum adat dan tradisi lain,Semakin tidak berfungsi. Bahkan, puncaknya memasuki Abad XIX, berbagai lembaga tradisional di tanah besemahTerasa mulai keropos dan pada akhirnya hilang digerogoti Kolonial Belanda
Suku Pasemah atau Besemah
adalah suatu masyarakat adat yang bermukim di daerah perbatasan provinsi Sumatra Selatan dengan provinsi Bengkulu. Wilayah pemukiman suku Pasemah meliputi daerah sekitar kota Pagar Alam, kecamatan Jarai, kecamatan Tanjung Sakti dan daerah sekitar kota Agung kabupaten Lahat. Wilayah pemukiman suku Pasemah ini berada dekat sekitar kaki Gunung Dempo.

Istilah Pasemah, terdapat dalam prasasti yang dibuat oleh balatentara raja Yayanasa dari Kedatuan Sriwijaya setelah penaklukan Lampung tahun 680 Masehi yaitu “Prasasti Palas Pasemah” ada hubungannya dengan tanah Pasemah. Dengan adanya prasasti ini, menunjukkan bahwa suku Pasemah, telah ada sejak sebelum abad 6 Masehi.

Masyarakat Pasemah, menyebut diri mereka sebagai orang Besemah. Saat ini, justru sebutan Pasemah yang populer di Indonesia ini, tidak banyak orang yang tahu dengan sebutan yang benar, yaitu Besemah.
Keberadaan suku Pasemah sendiri diperkirakan telah ada di wilayah Sumatra Selatan ini sejak ribuan tahun sebelum Masehi, bersama-sama suku Komering dan suku Lampung. Hanya saja sejak awal kedatangan, telah terpisah-pisah dan berbeda tempat pemukiman.

Suku Pasemah, kaya dengan nilai-nilai adat, tradisi dan budaya yang khas. Masyarakat di tanah Pasemah sejak dulu sudah memiliki tatanan dan aturan masyarakat yang bernama “Lampik Empat, Merdike Due” yakni, "Perwujudan Demokrasi Murni", yang muncul, berkembang, dan diterapkan sepenuhnya, oleh semua komponen masyarakat setempat.

Menurut masyarakat suku Pasemah, asal usul mereka diawali dengan kedatangan Atong Bungsu, sebagai nenek moyang orang Pasemah Lampik Empat, yang datang dari Hindia Muka, yang memasuki wilayah Sumatra Selatan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling. Pada saat kedatangan si Atong Bungsu, ternyata sudah ada 2 suku yang terlebih dahulu menempati daerah itu, yaitu suku Penjalang dan suku Semidang. Mereka bersepakat untuk sepanjang hidup sampai anak keturunan tidak akan mengganggu dalam segala hal. Atong Bungsu menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melalui keturunannya Puyang Diwate, Puyang Mandulike, Puyang Sake Semenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus dan Puyang Sake Seketi, menjadi suatu kelompok masyarakat Jagat Besemah atau yang disebut sekarang sebagai suku Besemah (Pasemah).Disebutkan, Atong Bungsu berkembang dan mempunyai keturunan. Keturunannya menyebar ke berbagai tempat dan membentuk beberapa kelompok, yaitu suku Sumbai Besar, Sumbai Pangkal Lurah, Sumbai Ulu Lurah, dan Sumbai Mangku Anom. Ke 4 suku ini disebut sebagai kelompok suku Lampik Empat. Jadi di wilayah Sumatra Selatan pada masa itu terdapat 6 suku yang menyatu dan membentuk suatu kelompok masyarakat yang memiliki tatanan demokrasi modern.
Dalam beberapa tulisan di beberapa situs internet, disebutkan bahwa Atong Bungsu sebagai nenek moyang suku Besemah berasal dari Majapahit. Agak sedikit membingungkan!, Karena orang Pasemah atau Besemah, telah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya atau bahkan sebelum masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad 6. Sedangkan Majapahit baru ada sejak abad 12. Mungkinkah suku Pasemah yang telah ada sejak abad 6, berasal dari nenek moyang yang hidup pada abad 12 ? hal ini perlu ditelaah lebih lanjut.. Suku Pasemah berasal dari Atong Bungsu, bisa diterima oleh akal, tetapi kalau berasal dari Majapahit, sepertinya tidak masuk akal. Karena orang Pasemah sendiri jauh lebih tua dari Kerajaan Majapahit, dan bahkan mungkin telah ada sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Orang Pasemah, adalah orang-orang yang pemberani dan memiliki sikap setia kawan terhadap siapapun yang dianggap telah menjadi kawan, serta loyal dan berkomitmen. Sikap dan kepribadian orang-orang Pasemah ini justru diakui oleh beberapa penulis Belanda di zaman kolonial.


SUKU BESEMAH BAGIAN KECIL DARI KERAJAAN SRIWIJAYA

MUARA PAYANG

Pada hari ini merupakan tonggak sejarah pertama bahwa di BESEMAH atau dikenal dengan sebutan PASEMAH di Sumatera bagian Selatan dilaksanakan Seminar Sejarah dengan Tema “ Dengan Seminar Nasional Peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya, kitKIta Wujudkan persatuan dan Kesatuan Bangsa Serta Rasa Cinta Tanah Air”.
Sepengetahuan kami belum pernah ada seminar sejarah sekhusus ini di tempat ini (TANAH PASEMAH) yang mengaitkan jagat Pasemah dengan Kerajaan Sriwijaya.
Ini membuktikan perspektif sejarah untuk di teliti secara ilmiah tidak terbatas waktu dan tempat dipandang dari berbagai disiplin ilmu termasuk juga temuan-temuan benda-benda bersejarah yang diketemukan kemudian.
Jadi Sejarah adalah riwayat masa lampau, suatu riwayat yang menjelaskan asal dan proses suatu peristiwa sejarah. Secara umum sejarah dikaitkan dengan peninggalan-peninggalan benda masa lampau misal patung, situs, candi, senjata kuno, budaya-budaya kuno dan lain-lain.
Dismping itu sejarah menapilkan dimensi ruang dan waktu. Setiap pristiwa selalu mengandung tiga unsure yaitu pelaku, tempat, dan waktu. Peninggalan msa lampau lebih berkonotasi pada keadaan yang belum tersentuh manusia masa kini. Peristiwa sejarah sebagai perisrtiwa sejarah itu susngguh-sungguh terjadi ( Hitorialita) sudah berlalu, peristiwa masa lampau tidak mungkin tampil di hadpan masa kini.
Tidak ada manusia yang dapat melarikan diri dari sejarah. Namun tidaj semua manusia dapat menyadari diianya sebagai pelaku sejarah apa lagi berkesadaran bersejarah
Mudah-mudahan dengan seminar ini menyadarkan kita betapa pentingnya arti berkesadaran sejarah untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam pembangunan NKRI.



BESEMAH BAGIAN DARI SRIWIJAYA

Sebagai mana kita ketahui bahwa bangsa Indonesia sangat majemuk sekali keberadaannya dari sabang sampe maroke, beranekaragam suku bangsa, beranekaragam adapt, budaya, bangsa bahkan tanggan agama yang dianut dapat dilihat dengan jelas
Demikian suku bangsa BESEMAH atau PASEMAH merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari suku bangsa yang ada dibumi nusantara ini.
Menurut sejarah dan crita yang diyakini sejak zaman dulu hingga saat ini, nama “ BEEMAH” atau “ PASEMAH “ asal mula puang “ATONG BUNGSU “ mencari dengan keluarga dan rombongannya.
Pada akhirnya puyang ATUNG BUNGSU melihat dan menemukan ikan SEMAH dipeairan dataran tinggi dantara bukit barisan dan gunung dempo hingga wilayah / daerah ini diberimana “ BESEMAH “.
Dengan perkembanggannya ada dimanakan “ TANAH BESEMAH”, “RANA BESEMAH”, “JAGAT BESEMAH”, demikian penduduk asli ( Masutim ) menamakan kelahirannya.
Hikayat nenek moyang ini dapat dari penuturan tua-tua terdahulu, secara tertulis belum ditemukan.
Sebelum kita memaparkan lebih jauh,mari kita keadaan PASEMAH dari zaman ke zaman antara lain :
- zaman ketika Pasmah mengalami kemajuan karena usahanya sendiri, zaman kemerdekaan sekian ratus tahun yang berlalu bahkan beberapa yang lalu, dapat dilihat dari :
 Geografis, Siapa orang Pasemah (asal usul),, Budaya, Bahasa, Pemerintahan, Peninggalan-peninggalan benda bersejarah megalit, candi, situs, dll .

- Zaman keadaan sriwijaya → 700 tahun sudah ada
- Zaman kesultanan Palembang (1600 – 1825)
- Zaman Kolonial Inggris dan Belanda (abad 18 dan 19)
- Zaman kemerdekaan Indonesia (1945-sekarang)

Dalam seminar ini kami membatasi hanya sampai ke BESEMAH adalah bagian dari sriwijaya.
I. Geogarafis Pasemah
Pasemah secara geografis terletak kearah sebelah barat Kota Palembang atau di pedalaman Sumatera Selatan. Terhampar di lereng-lereng bukit dan gunung dempo, dengan ketinggian ± 3200 m diatas permukaan laut. Sebelah timur membujur kearah bukit besar sedangkan keselatan membujur kearah gunung atau bukit patah. Daerah Pasemah menurut penyebaran penduduk dibagi menjadi beberapa bagian yaitu Pasemah lebar, Pasemah Ulu Manna, Pasemah Ulu Lintang, Semendo, Pasemah Air Keruh, Pasemah Kikim, Pasemah Merapi dan Bandar Agung, Muaradua Kisam dan Makakao.
Punggung Gunung yang membentang dari bukit jambul kearah selatan menuju bukit pancing memisahkan Pasemah Lebar dan Pasmah Semendo selanjutnya kearah yang sama kegunung patah di ujung paling selatan dan kearah barat kebukit Umang, kemudian kearah utara Gunung Dempo memisah antara Pasemah Lebar dengan Pasmah Ulu Manna.

II. Siapakah orang Besemah atau Pasemah ?
Secara tertulis pula, rumpun sukubangsa pasemah belum diketemukan hingga banyak pendapat atau penulis sejarah pasemah terdahulu menulis dan meriwayatkan bahwa rumpun orang Pasemah termasuk antara lain :
- Orang Pasemah berkumpul ke Bengkulu
- Orang Pasemah berkumpul ke Jawa
- Orang Pasemah berkumpul ke Lampung
- Orang Pasemah berkumpul ke Muka
- Orang Pasemah dari daratan timur Asia dan seterusnya
Dari sekian banyak pendapat ini, penulis mengajak mempelajari dari pakar sejarawan berbagai disiplin ilmu untuk mengetahukan ras-ras umat manusia dan migrasi bangsa-bangsa masukan ke Nusantara.

III. Melayu tua dan melayu muda
Dinamika gerak awal penduduk di Asia Tenggara (2000-3000 tahun SM) dari (Keith Buchana – The Southeast Asia World halaman 27).
Sebagian besar penduduk indonesia termasuk Ras Paliomongoloid, sebutan yang dberikan oleh VON ELCKSTEAT untuk Ras Melayu, sebagai cabang dari Ras Induk Kuning. Ras Malayu ini yang menyebarkannya dari sumber aslinya (mungkin tibet) menuju ke selatan Hindia Belakang.
Di Hindia belakang ada dua pusat penyebaran. Dari daerah Yunan di Cina selatan berangkalah suku-suku yang tergolong proto Melayu Tua. Sedangkan dari dataran Dongson di Vietnam Utara berangkatlah Deutro Melayu Muda. Melayu sebagai keseluruhan adalah dengan ciri-ciri fisik (generologis) rambut lurus, kulit kuning kecoklatan dan kadang-kadang masih sipit pelupuk matanya bahkan masih banyak yang berkulit putih dan sipit matanya.
Antropolog Fischer berpendapat bahwa kelompok Melayu Tua datangnya di Nusantara lebih dulu dari pada kelompok Melayu Muda. Migran-migran pendahulu itu menempati pantai-pantai Sumatra selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat.
Tetapi kemudian kaerana tersesak oleh kelompok Melayu Muda yang datang kemudian, kelompok Melayu Muda lanjut k pedalaman dan hidup tersolasi sehingga muncullah peradaban mereka ini suku-suku Dayak dan Toraja. Adapun suku Batak kemudian memiliki jalan Barat menguasai pantai-pantai barat dan malaka, buktinya pada suku Karen dan Burma (Birma) banyak terkandung kemiripan fisik, bangsa dan suku Batak.
Perpindahan mereka di Nusantara dapat ditelusuri rutenya yang berupa terbesarnya alat-alat mereka tinggalkan secara berceceran yakni kapak persegi panjang (rectangular axe) kedapatan di Malaka, Sumatra Kalimatan dan Sulawesi.
Hal yang menarik adalah kontradeksi mengenai fakta yang telah ditemukannya kapak persegi panjang dalam jumlah lebih besar justru di luar daerah Melayu Tua yakni Sumatra Selatan (Pasemah) dan di jawa.
Kelompok Melayu Muda seperti ditunjukkan di atas berasal dari Dongson Vietnam Utara. Mereka ini telah membuat perkakas dari perunggu. Peradapan mereka di tandai dengan kemampuan mengerjakan logam dengan sempurnah. Di bidang pengolahan tanah pertani yang berhasil mereka tercipta dengan membabat hutan terlebih dahuli. Sudah selakyaknya mereka mencari daerah-daerah Sumatra dan Jawa untuk digarap seperti di Negeri asal-usul mereka.
Menurut perhitungan sejarah, nenek moyang orang Melayu, Sumatra, jawa dan Kalimantan ini datangnya pada tahun 1500 sebelum Tarikh Masehi memeperlihatkan penyebaran bahasa-bahasa daerah menurut suku-suku Melayu.
Untuk menelusuri penjelasan di atas atau yang telah dikemukakan diatas dikandung maksud migran-migran masuk ke Nusantara atau untuk melihat penyebaran penduduk di Bumi Nusantara.
Khususnya di Sumatra bagian Selatan suku bangsa Pasemah banyak kemiripan dengan asal kedatangannya di Negeri asal-usul mereka. Hal juga dapat kita lihat dari penelitian pakar pra sejarah dan kepurbakalaan awal abad 19 sampe tahun 1935 adanya peninggalan-peninggalan pra sejarah.

IV. Zaman Megalitik
Megalitic Remain in South Sumatra
Pasemah mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah kebudayaan Indonesia, karena peninggalan tradisi megalitik yang berjumlah ratusan buah.
Robert Von Heinz Gelderen pakar kepurbakalaan mengatakan peninggalan tradisi megalitik berupa batu besar berbentuk manusia secara utuh seperti arca batu tinggi hari, Muara Dua dan Pulau panggung menggambarkan arca pendeta leluhur dinegri Cina sebagai altar pemujaan leluhur ini juga mengigatkan negeri asal, arca ditinggi hari memakai semacam topi yang bagian belakang sisi kiri dan kanan cobing, membatasi bagian muka dengan kepala. Jelas terlihat bahwa arca ini memakai topi khas Cina yang di perkirakan zaman Dinasti Tang dan Ming (618-207 SM).
Sejarah dengan itu tanah Pasemah banyak ditemukan batu megalitik zaman Hindu-Budhaoleh pakar arkeologi dalam bukunya “ DE HINDOE OUDHEDEN IN DE PESEMAH HUOGLAKKTE (RESIDENTE PALEMBANG) DOOR LC. WESTENK” tahun 1932. juga ilmuwan-ilmuwan arkeologibangsa Eropa yang tidak kami tulis satu per satu dan batu megalitik (arca) ini banyak ditemukan di Dusun Tegu Wangi dan di dusun lain Pasemah, inilah sedikit dari gambaran peninggalan zaman megalit.
Di dataran tinggi Pasemah banyak terdapat arca atau patung-patung yang menggambarkan manusia masa kini (diluar arca zaman Hindu) menurut hikayat dan legendanya patung / arca ini kutukan dari puyang serunting sakti terkenal dengan sebutan sipahit lidah lainnya terkenal dengan cerita pertempuran antara sipahit lidah dan aria tabing kerena jagat Pasemah terkenal dengan sebutan Bumi sipahit lidah.

V. Agama dan kepercayaan
Menurut beberapa penulis Barat bahwa sebelum masuknya agama islam di Pasemah dahulu masyarakat menganut Aninisme tetapi ini sangat di ragukan sebab pada dasarnya aninisme adalah suatu bentuk pekercayaan primitif yang memuja benda-benda yang di percaya mempunyai atau didiami roh halusmemang keprcayan aninisme banyak dianut suku-suku yang ada di indonesia seperti di kepulauan Nias, Tapanuli (Batak), suku Dayak di Kalimantan dan suku dikepualauan Irian (suku asmat). Suku ini membuat patung dari kayu yag disebut “TOTEM” di pakai dalam upacara keadatan mereka.
Tetapi ciri-ciri khas sperti itu atau pemujaan benda-benda yang di buat sendiri atau terhadap benda lainnya seperti batang, kayu terdapat dalam keadatan Pasemah (Upacara Adat Pasemah)
Ada pendapat lain bahwa orang Pasemah sangat percaya pada apa yang disebut puyang sebgai leluhur yang sangat di hormati, disegani. Karena puyang-puyang ini disamping asal-usul keturunan juga mempunyai kesaktian terlihat ini jelas hingga sekarang masih diceritakan dan diakui walau pun sebelum agama islam masuk juga ada pengaruh dari agama Hindu dan Budah, seperti nyeran masuk hitan panen padi pada sanghiang sri dan ada lagu (gegerit) yang menyebut Sang Batare Dewe di Kahyangan.
Dalam kitab-kitab dalam bahasa sang sekerta pada awal tahun masehi di sebut Pulau Jawa dengan nama Jawadwipa dan Sumatera dengan nama Suwarnadwipa.
Menurut pararaton mereka datang dari negeri Kalingga, Keling dan pantai tanah Malakadwipa dari kamboja (Campa) dalam babad itu banyak nama tempat ke Pualauan Hindia yang berganti arah ke tenggara sambil berdagang mereka mengajarkan agama dan kebudayaan serta tata cara mereka tidak menularkan atau mengembangkan ilmu pengtahuan saja melainkan mempengaruhi orang-orang Sumatra, Jawa, Bali, dan Sumbawa.
Dalam pararaton dijelaskan pula bahwah tempat peristirahatan dalam perjalannya terletak di pilau Sumatra yang berawa-rawa serta berhutan belantara jelaslah Palembanng dan Jawa bagian tengah menjadi tumpuan bertempat tinggal orang hindu dan Budha ( dalam buku Prapanca Negara Kertagama Kerajaan Sriwijaya adalah pusat pendidikan agama Hindu Budah

VI. Bahasa dan Tulisan 
Bahasa Besemah (Pasemah) termasuk dalam bahasa Melayu. Namun demikian para ahli bahasa mengatakan bahwa bahasa Pasemah dalah bahasa Melayu Tua. Hal ini dapat dibuktikan dari linguistik khas Pasemah dan di perbendaharaan kata-kata tidak sama dengan kebanyakan bangsa Melayu pada umumnya di Pulau Sumatera antara lain Bahasa Melayu Deli, Melayu Riau, melayu Jambi, dan Melayu Pulau Bangka, dll. Dalam tulisan orang Pasemah tempo dulu sudah mengenal apa yang disebut tulisan huruf “ULU” atau Akasara Rencong disebutRenceng karena ditulis patah-patah.

VII. Kebudayaan Pasemah
Sebagai suku bangsa yang mempunyai kebudayaan yang tinggi ada beberapa peninggala-peninggalan nenek puyang yang sampai saat ini masih ada dan dipelihara antara lain :
- Rumah Dempo Dulu ( Rumah adat Bahari) yang banyak terdapat di dusun (Kampung) lama. Rumah adat ini dinamakan Rumah Beunjung Bertihang Sembilan, dengan ukiran ciri pada zaman matahari mati. Ciri-ciri ukiran ini dari zaman dinasti di Cina (Zaman Dinasti Tang dan Dinasti Ming)
- Zaman tempo dulu nenek puyang ahli dibidang membuat kain tenun ikan khas Pasemah, juga dalam kesenian ada tarian khas Pasemah, tari Reban, Gegirit, rejung dll.
- Yang tidak kalah pentingnya di Besemah Jurai Sumbaiadalah suku-suku yang mempunyai beberapa jenis senjata yang terbuat dari besi. Senjata yang dibuat daei besi ini dari zaman Kerajaan Sriwijaya ( ciri-ciri pembutannya sangat jelas dari zaman Hindu Sriwijaya ) seperti :
§ Kerisis Tata Runjune Pusaka Dewe Semidang
§ Rentakeu dan Buntag Bujuk Pusaka Sumbai Tanjung Raga
§ Keris Kerian Tangis Pusaka Sumbai Ulu Lurah
§ Siwar Lawang dan Keris Santan Apung dll
Dahulu menurut cerita senjata-senjata tersebut mempuyai kekuatan magis (sakti).sebenarnya banyak pusaka-pusaka orang Pasemah dari kerajaan Sriwijaya.

VIII. Pemerintahan Adat yang Dinamakan “ Lampik Empat Merdike Duwe”
Di Besemah Pemerintahan adat / kekuasaan adat “ Lamping Empat Merdike Duwe” , adalah kekuasaan adat yang tidak mempuyai komdifikasi, pada dasarnya untuk mengatur tatanan, nomor-nomor kehidupan berdasarkan kebiasaan yang ada dalam masyarakatnya, demikian di Pasemah secara populer dalam bahasa asingnya disebut “The Unwritten Adat Law” atau Jus Non Scriptum (hukum asli penduduk).
Hukum adat adalah suatu yang hidup, karena ia menjelmahkan perasaan hukum yang nyata dari rakyat dengan f itrahnya sendiri, adat terus menerus dalam keadaan tumbuh dan berkembang seperti hidup itu sendiri (Pakar Hukum Adat, Prof. Dr. R. Seopomo, SH (UJ 1962 hal 6)
Pada zaman kemerdekaan Besemah (Pasemah) rumpun-rumpun seketurunan yang membentuk kesatuan genelogi dan mencetuskan kesatuan-kesatuan bersifat teriorial. Kesatuan masyarakat ini adalah :
- Sumbai Besar
- Sumbai Tanjung Raya (Pangkal Lurah)
- Sumbai Ulu Lurah
- Sumbai Mangku Anom
- Sumbai Suku Semidang
- Sumbaisuku Penjalang
Kesatuan masyarakat tersebut diatas yang melaksanakan aturan-aturan adat di dalam masyarakanya. Kepala sumbai suku ini adalah pimpinan adat bersama-sama Junai Tua sebagai DewanAdat (sama dengan perwakilan rakyat) sumbai dan suku dalam pemerintahan adat (pelaksana adat) “ Lampik Empat Merdike Duwe” kepala atau ketua Pasemah dipilih atau ditetapkan dari ketua sumbai “Lampik Empat Merdike Duwe” dengan nasehat dan pertimbangan Mrdike Duwe. Maka secara bersamaan di pasemah kekuasaan adat tadi disebut “ Lampik Empat Merdike Duwe” suatu pemerintahan yang kuat demokratis.
Oleh Dr. Van Rooyen ( dalam bukunya “de Palembangsche marga en Hare Grand en Waterrechten) dikatakan sebagai suatu “Een Republiek in den meest democratisheunzin” suatu republik arti seluas kata. Kebenaran kata-kata Dr. Van Rooyen tersebut juga oleh penulis barat lainnya berpendapat sama ( Dr. BJ Hage-Haven-Granberg-wilken-Dr. Lublink Widdik dan Sri Thomas Stanford Raffles) diantaranya menulis buku promotion/skripsikesarjanaan mereka buku “memore van overgranve atau buku “Kolonial Studien”.
Perlu dicatat dan diketahui bahwa pemerintah adat “Lampik Empat Merdike Duwe” ini tidak di bawah kekuasaan Sultan Palembang yang baru terbentuk abad 16-1825 tahun masehi oleh kesultana Banten dan Kesultanan Cirebon. Karena itu di Besemah tidak mengenal istilah sultan atau sunan.
Berakhirnya kekuasaan adat “Lampik Empat Merdike Duwe” setelah Belanda dan Inggris mengekspansi ke tanah Pasemah yang terakhir di Sultan selatan. Keterangan ini didapat dari MRHAJ Oecker Asisten Residen Palembang bahwa dalam masa mengekpansi ke pasemah melalui tiga arah antara lain :
(Tiga Rangkaian Sejarah Perlawanan Rakyat Pasemah)
- Dari daerah Bengkulu ke Pasemah Ulu Manna selnjutnya ke tanjung sakti oleh inggris tahun 1790 sampai 1821 M
- Dari daerah Tebing Tinggi ke Pasemah Ulu Lintang oleh Belanda tahun 1852 M.
- Dari Lahat berakhir tahun 1866 M ke Pasemah Lebar

IX. Kerajaan Sriwijaya
Berdasarkan buku-buku sejarah Indonesia bahwa pada zaman keemasannya kerajaan sriwijaya pengaruhnya sampe ke Cina, Kamboja, Thailand hal ini ditulis pada babad Cina dan berdasarkan prasasti-prasati yang ditemukan di Palembang, Jambi antara lain Prasasti Keduikan Bukti yang menunjukkan tahun 5 Ashade 605 saka atau bulan Juni 683 Masehi oleh Dapunta Hyang (isi Prasasti tidak kami tulis)ini pada waktu Seminar sejarawan untuk menentukan hari jadi Kota Palembang (Bulan April 1972).
Dalam buku “Negarakertagama” yang ditulis Prapanca adalah buku yang merupakan (Buku Banbon) sejarah-sejarah kerajaan di Bumi Nusantara yang di tulis dalam huruf Sanskerta tahun 1287-1365 masehi.
Menjelaskan bahwa kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kerajaan dan bandara yang cukup ramai. Pusat dan bandara inilah disebut Palembang (sekarang ini) dan kerajaan riwijaya ini yang menjadi pusat pengembangan pendidikan agama Hindu dan Budha.
Dalam Perjalan sejarahnya pada Dinasti Syailendra bagian dari Raja-raja Sriwijaya pada Zaman Keemasannya pada akhir abad ke-8 masehi pernah meletakkan titik kekuasaannya di daerah Jawa Tengah (Magelang) yakni bangunan suci yang sampai saat ini masih berdiri yaitu candi Borobudur, Mendut dan Candi Pawon adalah hasil karya seni bagunan dan seni pahat dalam kerangka arisitektur yang tidak ternilai.
Pada dinding-dinding Candi digambarkan diantaranya relief-relief pelajar sedang belajar agama Budha dll dan yang tidak kalah pentingnya adalah prasasti bahwa candi ini dibuat oleh syailendra Raja Sriwijaya. Dan Candi Borobudur ini merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia Bahkan merupakan seni bangun pra sejarah tingkat dunia.
Berdasarkan cerita-cerita tetua/leluhur orang Besem,ah dan sangat diyakini bahwa Putri Sandang Biduk adik dari Puyang Atong Bungsu kawin dengan Raja Sriwijaya.
Menjelang kehancuran oleh serbun Cola Mandala dalam tahun 1024/1025 M dan dikisahkan dalam buku Negarakertagama, sriwijaya ditundukan oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1377 Masehi oleh Raden Wijaya dengan gelar Prabu Kertagama, dan disebut juga prabu Brawijaya.

Maksud dan Tujuan
Dengan adanya seminar Nasional Besemah ini maka akan menghasilkan karya ilmiah bagi masyarakat Pasemah, rakyat Sumatera Selatan dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Kesimpulan
Dari hasil pemaparan tersebut di atas maka penulisan menyimpulkan bahwa Pasemah masih eksis untuk diteliti secara ilmiah dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat dijadikan ilmu pengetahuan baik masa kini maupun yang akan datang.


Asal Mula Nama Besemah


Nama Besemah berasal dari nama ikan Semah, ikan ini termasuk golongan ikan-mas. Sedikit cerita tentang nama Besemah, yang konon katanya berasal dari cerita tentang istriRaden Atung Bungsu yang saat itu sedang mencuci beras disungai dan tiba-tiba ada seekor ikan Semah masuk kedalam Bakul atau tempat beras tersebut, lalu ikan itu lasung dibawa pulang oleh Kenantan Buwih (istri Raden Atung Bungsu) setiba dirumah ia pun menceritakanya ke Raden Atung Bungsu. dan tanpa pikir panjang dan penuh keherananRaden Atung Bungsu pun mengatakan tanah tempat dia tinggal ini akan dinamakanBESEMAH.

Secara ilmu pengetahuan Besemah berasal dari kata Semah dan di beri awalan Be (ber), kata Be atau ber itu sendiri berarti 'ada'.

Namun Besemah sering kali membuat orang-orang bertanya 'yang benar itu Besemah atauPasmah.?'
Nah..hal ini la yang membuat banyak orang bertanya, sebenarnya Besemah dan Pasmah itu saling berhubungan tetapi lain cerita dan asal muasalnya. Untuk Pasmah sendiri akan aku jelaskan dalam postingan berikutnya.

Pengertian Jagat Besemah.

Pernah mendengar kata-kata JAGAT BESEMAH..? pengertian Jagat sendiri bukan semata-mata mengacu pada semesta alam raya ini melainkan memberi pengertian dalam suatu pemerintahan pada zaman sejarah Besemah dahulu yang memiliki wilayah yang luas.

Jagat Besemah sendiri merupakan masa kekuasaan Atung Bungsu dan didirikan oleh Atung Bungsu itu sendiri.

Besemah dan Wilayah-wilayahnya

Adapun wilayah-wilayah besemah sebagai berikut:

Terdiri dari 18 Wilayah di Besemah:
1. Wilayah Besemah Libagh (Besemah Lebar), terdiri dari:
- Wilayah Pagaralam (Kota Pagaralam), termasuk Ulu Ayik (Ulu Selangis) dan sebagian Besemah Tengah atau Besemah Tengah Padang (Besemah Belah Sini Ndikat).
- Wilayah Besemah Seberang Ndikat (saat ini Kecamatan Kota-agung)
- Wilayah Impit-bukit dan Padang-tinggi (kini Kecamatan Pajarbulan).
2. Wilayah Mulak-Pagargunung, (dalam Kabupaten Lahat) yang terdiri dari:
- Wilayah Mulak Ulu (kini Kecamatan Mulak Ulu)
- Wilayah Pagargunung (kini Kecamatan Pagargunung)
- Wilayah Mulak Iligh (Mulak Ilir), kini termasuk Kecamatan Merapi.
3. Wilayah Gumay Tige Jughu (Tiga Segi), (dalam Kabupaten Lahat), terdiri dari:
- Wilayah Gumay Lembak, termasuk Suku Lime
- Wilayah Gumay Ulu, termasuk Semidang Empat Dusun
- Wilayah Gumay Talang di Kikim Kecik
4. Wilayah Lematang (dalam Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muaraenim), yang terdiri dari:
- Wilayah Lematang Ulu, termasuk Lahat, Bandaragung, dan Merapi
- Wilayah Lematang Iligh
5. Wilayah Kikim
6. Wilayah Besemah Ulu Lintang (kini Kecamatan Jarai)
7. Wilayah Besemah Ayik Keghuh (kini Kecamatan Besemah Air Keruh)
8. Wilayah Besemah Ulu Manak (Tanjungsakti)
9. Wilayah Besemah Ulu Alas (dalam Kecamatan Talo Kabupaten Seluma Bengkulu Selatan)
10. Wilayah Besemah Palas (Kecamatan Palas Pasemah di Kabupaten Lampung Selatan)
11. Wilayah Kisam, termasuk Bayur di Kabupaten OKU Selatan
12. Wilayah Mengkakaw di Kabupaten OKU Selatan
13. Wilayah Rebang di Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung
14. Wilayah -Wilayah Semende Panjang
15. Wilayah Inim dan Ulu Inim
16. Wilayah Ulu Ogan (kini Kecamatan Ulu Ogan)
17. Wilayah -Wilayah Kedurang, Padang-guci, Kelam, Kinal, dan Luwas di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu
18. Wilayah Lintang (Lintang Kanan dan Lintang Kidaw).





Sumber:
http://kutuistana.blogspot.com/2014/06/sejarah-terlengkap-suku.html

No comments:

Post a Comment