Tuesday, May 19, 2015

Mencari Jejak Gayo di Loyang Mendale

Mencari Jejak Gayo di Loyang Mendale




Arkeolog menemukan 12 kerangka manusia prasejarah di Gayo. Kerangka itu ada yang berusia 7200 tahun, berasal dari zaman batu pertengahan. Mungkinkah ini nenek moyang suku Gayo dan Aceh?

Beberapa orang hilir-mudik di salah satu gua karang Loyang Mendale, Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah, Sabtu 24 November 2012. Sebagian berjongkok dan menyapu batu-batu karang dengan kuas. Mereka Tim Balai Arkeologi atau Balar Medan. Beberapa orang lagi menggali tanah di dalam gua karang itu. Tanah lalu disaring.

Ada beberapa titik lokasi dalam Loyang Mendale yang digali oleh tim dalam program Austronesia di Indonesia bagian Timur. Tim ini mengkaji  budaya Austronesia dan Gayo.Saat penggalian awal, tim menemukan gerabah serta beberapa perhiasan kerang, yang menunjukkan ada kehidupan di ceruk batu itu. Temuan ini membuat para peneliti memperlebar kawasan galian di situs Loyang Mendale. Setelah 20 hari, para arkeolog menemukan empat kerangka.

Hasil ini melengkapi penemuan tim di kawasan Ujung Karang, Aceh Tengah, yang berjumlah delapan kerangka beberapa hari sebelumnya. Dari kerangka-kerangka itu, ada satu yang berusia 7.400 tahun. Adapun kerangka lainnya berusia 5.000 tahun hingga awal Masehi masa neolitikum.





Loyang Mendale berjarak sekitar 20 meter dari Danau Lut Tawar. Ceruk ini juga berada dekat pemukiman penduduk Kampung Mendale, sekitar 10 meter. Loyang Mendale berada di bawah bukit. Bila hujan, ceruk ini bisa digunakan berteduh.

Sementara Ujung Karang agak jauh dari Danau Lut Tawar. Jaraknya sekitar 300 meter. Lokasi Ujung Karang ini sama seperti Loyang Mendale. Namun, di Ujung Karang ada sebuah gua yang sudah tertutup tanah.


Tim Arkeolog dari Balar Medan menemukan 12 kerangka manusia prasejarah di kawasan ini. Kerangka itu ada yang tertindih batu, memakai alas bantal dari batu, dan ada yang ditemukan saling berdampingan. Yang terakhir ini diperkirakan suami istri. Selain itu, ada pula tengkorak dan tulang-belulang.

Ketua Balai Arkeologi Medan Ketut Wiradnyana pada Rabu 19 Desember 2012, kepada The Atjeh Times mengatakan, tengkorak terhimpit batu diperkirakan karena pergerakan tanah. Sehingga, kata Ketut, tengkorak itu sudah berada di bawah karang bukit.

“Umur dari kerangka manusia prasejarah itu diketahui dengan melihat lapisan budaya yang ada, tempat, dan dari karbon analisis,” ujar Ketut. Kini, kerangka prasejarah itu dalam proses tes DNA di Jakarta. Tim juga mengambil DNA warga Gayo Takengon sebagai pembanding.

Selain menemukan kerangka, Tim Balai Arkeologi juga menemukan sejumlah artefak, seperti kapak batu persegi dan lonjong berusia sekitar 3.500 tahun. Kerangka, gerabah, dan kapak batu itu sudah dibawa ke Badan Tenaga Atom Nasional di Jakarta untuk diteliti lebih lanjut.

Kata Ketut, kerangka yang diprediksi berumur 7.400 tahun itu ras manusia prasejarah Austro Melanesoid.  Namun, kata dia, ada kemungkinan besar usia kerangka lebih dari 7.400 tahun.



Austro Melanesoid nenek moyang manusia Wajak (purba) yang tinggal di Barat Indonesia. Ciri fisik manusia ini ada campuran ciri Mongoloid, orang Mongol di Asia Timur. Perkampungan Austro Melanesoid dapat ditemukan di Sumatera Timur dan Utara dekat Medan, dekat dengan Langsa di Aceh serta di Perak, Kedah, dan Pahang, Malaysia.

Ketut mengatakan penemuan kerangka prasejarah ini sedikit banyaknya telah menjawab asal-usul orang Aceh dan Gayo. Berdasarkan temuan itu, kata dia, besar kemungkinan orang Gayo penduduk asli di Aceh.
Tokoh masyarakat di Aceh Tengah, Zul MD, juga mengatakan hal serupa. Kepada The Atjeh Times, Sabtu pekan lalu, Zul mengatakan, penemuan itu membuktikan sejarah identitas manusia di Sumatera.

Penemuan itu juga dianggap membuktikan manusia di Aceh dan Sumatera secara umum telah ada di muka bumi ini sejak 7.400 tahun lalu. “Saya berharap pemerintah secepatnya menindaklanjuti penemuan kerangka manusia prasejarah ini dengan menjadikannya tempat wisata. Selain meningkatkan perekonomian masyarakat, juga bisa menghasilkan pendapatan asli daerah setempat,” kata Zul MD.

Kata dia, Balai Arkeologi Medan telah berusaha dan berhasil menemukan sejarah dengan dana dari lembaga itu. “Pemerintah hanya perlu melanjutkannya saja dengan menjadikan tempat wisata,” ujar Zul.

Dua belas kerangka manusia prasejarah dan beberapa artefak di Loyang Mendale serta Ujung Karang, merupakan temuan dari Zaman Mesolitikum atau zaman batu pertengahan. Hal ini dikatakan Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah, Husaini Ibrahim.

Zaman Mesolitikum, kata Husaini, berada di antara 3.000 hingga 10.000 tahun lalu. Namun, Husaini menilai itu perlu diteliti lebih lanjut di laboratorium. “Ada dua cara untuk menentukan atau menghitung umur fosil, yaitu secara relatif (relative dating technique) dan secara mutlak (absolute dating technique),” kata Arkeolog Aceh ini kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Penelitian itu, kata dia, dapat dilakukan dengan melihat dari lapisan tanah. Selain itu, juga yang paling menentukan adalah metode karbon C14. Metode ini hanya dapat diberlakukan pada makhluk hidup.
Kata Husaini, fosil jarang ditarikh secara langsung.

Proses pentarikhan absolut ini biasanya dilakukan di laboratorium. Metode yang umum digunakan pentarikhan radiometrik (radiometric dating). Salah satu yang digunakan dan diterima secara luas, kata Husaini, pentarikhan melalui peluruhan radioaktif (radioactive decay dating) pada fosil.

Peluruhan radioaktif merujuk pada proses terjadinya bentuk elemen radioaktif yang berubah menjadi produk nonradioaktif dalam derajat reguler. Inti setiap elemen radioaktif, seperti radium dan uranium, kata Husaini, secara spontan terpisah seiring berlalunya waktu, dan mengubah diri menjadi inti atom elemen lain yang berbeda.

Dalam proses pemisahan ini, atom membuang radiasi berupa energi yang keluar dalam bentuk gelombang. Inilah yang disebut peluruhan radioaktif. Setiap elemen memiliki derajat peluruhan masing-masing, tanpa dipengaruhi oleh kondisi fisik eksternal.

Dengan mengukur jumlah atom original dan atom yang sudah bertransformasi dalam sebuah objek, para ilmuwan dapat menghitung atau menentukan umur objek tersebut.

Berdasarkan metodologi ilmu Arkeologi itu, kata Husaini, penemuan itu merupakan penanda tentang nenek moyang Suku Gayo di Aceh Tengah.[] BOY NASHRUDDIN AGUS | ZULKARNAIN (Takengon)
PALEOLITIKUM (ZAMAN BATU TUA)

Tahun          : 600.000 tahun lalu
Manusia     : Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus, dan Homo Soloensis
Artefak         : Alat-alat yang digunakan masih kasar dan terbuat dari batu. Salah satunya kapak genggam (chopper), kapak perimbas, alat-alat dari tulang binatang dan manusia, flakes
Pola Hidup : Berburu dan Meramu makanan

MESOLITIKUM (ZAMAN BATU PERTENGAHAN)

Tahun        : 3.000-10.000 tahun lalu
Manusia    : Homo Sapien
Artefak         : Terbuat dari tulang yang disebut sampung bone culture, flakes, pebble, pebble (alat-alat tulang yang datang dari jalan barat) dan kebudayaan flakes (datang melalui jalan timur)
Pola Hidup  : Menetap dan bercocok tanam. Tinggal di kjokkenmodinger (tepi pantai) dan goa-goa (abris sous roche). Pada masa ini manusia mulai bercocok tanam, menangkap ikan, serta berburu.

NEOLITIK (ZAMAN BATU MUDA)
Tahun        : 3000 tahun lalu
Manusia    : Homo Sapien
Artefak        : alat-alat yang terbuat dari batu sudah diasah dan diperhalus seperti beliung persegi dan belincung. Beliung persegi adalah alat yang dibuat dari batu kalisedon atau agat yang atasnya (bidang distal) melengkung, sedangkan bidang bawahnya (bidang proksimal) sedikit melengkung.

Bagian pangkal biasanya lebih kecil daripada bagian ujungnya. Bagian pangkal ini tidak digosok. Bagian ujungnya disebut juga bagian tajaman, digosok atau diasah hanya pada sisi bawah (pada bidang proksimal saja). Beliung tersebut digosok hingga halus dan mengkilat. Cara menggunakan ialah diikat pada setangkai kayu.

Pola Hidup  : Menetap, pertanian, peternakan, dan pembuatan tembikar.


Sumber:
http://andikastoryqun.blogspot.com/2014/04/mencari-jejak-gayo-di-loyang-mendale.html

No comments:

Post a Comment